Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Uncategorized

Mengenal Lebih Dekat Souraja: Wisata Sejarah di Kota Palu

Ditulis Oleh Ana Puji Lestari

Wisata sejarah dapat menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Palu. Kota Palu sebagai bekas ibu kota Kerajaan Palu memiliki banyak peninggalan sejarah yang memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Dewasa ini masih dapat kita temui sisa-sisa bangunan yang merupakan peninggalan masa kerajaan di Palu. Salah satunya adalah Souraja (Rumah Raja) atau yang biasa disebu Banua Oge.

Souraja

Souraja (rumah Raja)

Souraja terletak di Jalan Pangeran Hidayat. Objek wisata ini berada di wilayah administratif Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Souraja dapat disebut sebagai Istana Raja Palu, karena sejak didirikannya, bangunan ini ditempati oleh Raja-Raja Palu dan keluarganya silih berganti. Kepemilikan bangunan ini pun berlaku secara turun-temurun.

Souraja didirikan pada akhir abad ke XIX di tengah-tengah perkampungan Suku Kaili yang merupakan masyarakat pendukung Kerajaan Palu. Orang Kaili mengatakan bahwa Souraja adalah rumah besar dengan pengertian mempunyai kelebihan dan kekeramatan tersendiri. Kelebihan bangunan ini terdapat pada fungsinya sebagai tinggal raja atau bangsawan, maka dengan sendirinya bangunan ini pun dianggap keramat. Kekeramatan souraja dilekatkan pada kekeramatan raja yang dipercaya merupakan keturunan dari langit, “To Manuru”.

Corak bangunan Souraja merupakan hasil akulturasi dari beberapa kebudayaan yang ada di Kerajaan Palu pada saat itu. Palu yang saat itu menjadi salah satu daerah urban menyebabkan terjadinya proses akulturasi antara kebudayaan masyarakat asli dengan masyarakat pendatang. Budaya-budaya dari daerah lain ini pun memperkaya kebudayaan masyarakat Palu dari berbagai sendi kehidupan. Hasil akulturasi budaya di Lembah Palu ini masih terlihat jelas di kehidupan masyarakat suku Kaili. Salah satunya dapat disaksikan melalui keberadaan Souraja.

Pada masa pemerintahan Raja Yodjokodi. Souraja dibangun di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. Menurut Iksam, salah seorang ahli arkeologi dan sejarah dari Museum Negeri Sulawesi Tengah, wilayah Kampung Lere pada masa Raja Yodjokodi merupakan bagian dari wilayah Siranindi. Siranindi merupakan salah satu anggota patanggota Kerajaan Palu bersama Tatanga, Besusu dan Lolu.

Souraja dibangun pada tahun 1892, di masa pemerintahan Raja Yodjokodi. Pembangunan Souraja dikepalai oleh Hj. Amir Pettalolo, menantu dari Yodjokodi. Dalam pembangunan Souraja, sebagian besar tenaga kerjanya didatangkan dari Banjar sehingga nampak beberapa corak Banjar di bangunan tersebut. Souraja digunakan oleh Yodjokodi sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan.

Souraja beberapa kali mengalami pergantian fungsi yaitu, pada tahun 1921-1942, Souraja masih digunakan sebagai tempat tinggal raja dan pusat pemerintahan. Pada tahun 1942-1945, tepatnya pada masa pendudukan Jepang, Souraja dialihfungsikan sebagai tangsi militer tentara Jepang walaupun fungsi Souraja masih sebagai kantor pemerintahan Kerajaan Palu. Pada masa Jepang itu, kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Tengah berubah nama menjadi sucho.

Kemudian pada tahun 1945-1948, Souraja kembali difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Palu. Pada tahun 1958, ketika Permesta memberontak di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, Souraja hadir dengan fungsi baru sebagai asrama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Souraja dijadikan markas tentara dalam kegiatan Operasi Penumpasan Pemberontakan Permesta di Sulawesi Tengah. Peran ini berlangsung hingga tahun 1960.

Bangunan Souraja terakhir ditempati oleh Raja Palu Tjatjo Idjazah yang juga merupakan raja terakhir Kerajaan Palu. Tetapi Tjatjo Idjazah tidak menetap di Souraja karena ia lebih sering berada di rumahnya di kawasan sekarang jadi Apotik Pancar. Setelah Kerajaan Palu resmi dibubarkan, bangunan ini dikelola oleh Andi Tjatjo Parampasi dan Andi Tase Parampasi. Andi Tjatjo merupakan anak ke 4 dari Raja Palu, Parampasi. Setelah Andi Tjatjo Parampasi mangkat pada tahun 1974, pengelolaan rumah ini diserahkan kepada anaknya, Andi Harun Parampasi.

Pada tahun 1982, bangunan ini diinventarisasi oleh pemerintah dan kemudian dilakukan pemugaran. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1991-1992, dilakukan pemugaran secara keseluruhan terhadap bangunan ini yang dilakukan oleh pemerintah. Saat ini, bangunan ini dikelola oleh pemerintah sebagai salah satu cagar budaya.

Berwisata ke Souraja dapat menjadi pilihan bagi anda yang menggemari wisata sejarah. Lokasinya yang terletak di tengah kota dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Kondisinya yang masih terawat walaupun telah berumur ratusan tahun. Letak Souraja berdekatan dengan pesisir pantai dan Jembatan Kuning (Jembatan Empat) yang juga menjadi salah satu ikon Kota Palu. Bagi anda yang ingin mengisi liburan dengan nuansa edukatif dan historis, objek wisata yang satu ini layak menjadi salah satu destinasi utama anda jika berkunjung ke Kota Palu.

Tentang Penulis

Ana Puji Lestari

Penulis merupakan Alumni S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Tadulako.