Cerpen

Ada Apa Dengan Laporan?

Ditulis Oleh MUH. FIKRY kH

Setelah berjalan mencari dimana Ia berada akhirnya Aku menemukan Dia yang duduk di sebuah meja di bawah pohon depan Laboratorium . Nampaknya dia masih sibuk memeriksa lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapannya. Setelah dia melihatku dia menghentikan aktifitasnya. Aku mendekat ke meja itu dan meletakkan sebuah papan pengalas yang menjepit beberapa lembaran kertas HVS putih yang dipatron rapi 4433 menggunakan tinta biru.

TUBAGUS INDRAT TRI FITRIAWAL.

“Aduh Dek, ini nama saya salah ini. Nama belakang ini awalannya pake W bukan F. Ulang-ulang.”

“Ini salah….

Ini salah….

Nah..ini, ini salah juga ini….

Aduh Dek, Saya kan sudah bilang kemarin, Hasilnya ini dikalikan dengan yang ini, bukan yang itu. Masa kamu belum paham sih. Katanya kemarin sudah paham.Ya sudah, ini ulang dari awal ya. Nah ini bagus, perhitungan awalnya sudah betul ini. Ok la Ulang lagi yang salah ya.”

Aku hanya bisa pasrah melihat laporan yang Aku buat beberapa hari terakhir ini dicoret-coret. Sial ternyata masih salah.

“Iya Kak.” Jawabku pendek

“Ok siip la. Kerja lagi ya. Besok jam 10 Kakak tunggu koreksinya di Leb yang diujung itu. Oh iya, itu teman kamu yang terlambat kemarin siapa ya?”

“Oh, yang itu.”

“Iya, yang itu.”

“Itu yang mana ya Kak.” Aku tertawa bingung mendengar pertanyaan barusan.

“Aduh… Itu teman Kau yang terlambat kemarin.Yang minggu lalu pecahin Termometer. Bilang sama Dia, Minggu depan bawa Termometer yang baru, suruh dia yang ganti. Atau kalau bisa minta teman-teman kalian yang lain ikut patungan beli yang baru ya.” Kemudian Kakak itu pergi setelah selesai mengoreksi laporanku.

Sejak dua minggu terakhir ini, Aku dan hampir semua teman-temanku di buat kewalahan megerjakan tugas seperti ini. Selaian ini tugas yang baru buat kami. Kamipun menganggap ini tugas tersulit yang kami dapatkan. Ya setidaknya untuk saat ini, setelah satu bulan kami sudah memulai perkuliahan dengan menyandang status sebagai Mahasiswa baru.

Suasana ruang kelas menjadi gaduh. Aku yang saat itu sibuk mengerjakan beberapa tugas di sebuah Gazebo samping kelas ikut merasa risih mendengarkan perdebatan yang terjadi di ruang kelas, ya jujur saja mulai dari akar sampai ujung dahan permasalahannya tidak aku ketahui, akupun tak ingin ikut campur apa yang terjadi dalam ruang kelas itu.

Saat itu, Aku bersama tiga orang temanku; Ira, Arum dan Nur. Kami berempat manjadi teman yang akrab karena sejak beberapa minggu terakir, karena kami banyak menghabiskan waktu bersama. Salah satu kebiasaan kami adalah, seperti saat ini mengerjakan tugas bersama.

Tapi semua itu berubah sejak negara Api menyerang. Kali ini bukan negara api yang dipimpin oleh pangeran Zuko yang menyerang suku air. Tapi keempat sahabat itu harus menghadapi serangan waktu deadline laporan mereka. Sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Mipa, meraka dituntut harus pintar membagi waktu karena dalam seminggu harus bisa mengerjakan tiga laporan sekaligus ditambah lagi dengan tugas dari dosen pengampuh mata kuliah yang tak kalah pentingya. Tentunya sebagai mahasiswa baru, mereka harus bisa menyesuaikan dengan kehidupan kampus saat ini.

Tentunya mengeluh hanya akan membuat semua tugas-tugas yang ada di hadapan mereka hanya akan menjadi-jadi. Cara terbaik yang harus mereka lakukan adalah mencari solusi untuk membagi waktu dan menghilangkan semua kebiasaan yang tidak ada hubungannya dengan Negara api yang ada di angan-angan mereka. Seperti yang dilakukan Aang, Katara, Sokka dan Appa saat mereka akan menghadapi Negara api, mereka berempat harus mengusai semua ilmu eleman yang ada, barulah mereka bisa mengalahkan Negara api yang sangat kuat itu.

“Kita tidak bisa seperti ini”.Aku berbicara mengilangkan keheningan yang ada.

“Seperti ini apa sih, Begini saja Uni.Kau kan lebih pintar dari kami bertiga, jadi laporan ini kau saja yang kerja, yang dua ini biar kami bertiga cari solusinya. Ok ? .”

“Oh tidak bisa, Terus kalau kalian bertiga yang kerja dua laporan itu, saya pasti tidak akan tahu apa-apa tentang yang dua itu. Begitupun sebaliknya, kalau saya sendiri yang kerja laporan ini, pasti kalian bertiga tidak akan tahu apa-apa dengan isi laporan ini.” Aku langsung membentak solusi yang diberikan oleh Arum, ya menurutku kedua temanku itupun tak setuju; Ira dan Nur.

“Ya trus ini mau bagaimana lagi, kita tahu kalau kita mau kerja di luar kampus tempatnya dimana. Kita mau kumpul di rumahnya Nur, pasti kita bertiga tidak bisa, Apalagi sampai harus mengerjakan tugas ini malam-malam kan.”. Kali ini aku setuju kalimat terakhir yang diucapkan oleh Arum

Ketika Jam menunjukkan pukul 10.15 kelas tempat dimana mereka ikut memprogramkan mata kuliah itu masuk dan dikomandoi seorang dosen yang berkumis tipis dan berbadan agak tinggi.Dan solusi yang ingin mereka dapat belum juga di dapatkan. Seperti yang di katakan Arum,mereka berempat tidak bisa mengerjakan tugas itu dalam bentuk berkelompok apalagi sampai harus mengerjakan tugas itu sampai malam. Bukan karena mereka tidak ingin bekerja sama dalam hal ini tapi karena perkiraan rumah mereka yang saling berjauhan. Nur tinggal di Perdos, rumah Uni ada di kompleks pasar Inpres, Arum yang tinggal di Mamboro dan Ira yang tinggal nge-kos di Tombolotutu. Tentunya susah menemukan waktu dan tempat yang mereka inginkan.

Pelajaran kali ini berakhir saat waktu belum pada jam yang ditentukan, bukan karena dosennya sedang dapet, tapi Sang Dosen baru saja menerima panggilan telepon entah itu dari siapa yang membuat perkuliahan di kelas itu diakhiri dengan sebuah tugas yang harus dikumpulkan sore itu juga di ruangan dosen tersebut, lebih tepatnya jam empat kurang lima belas menit.

“Ok.. Laporan-laporan.. foto dulu ee..” teriak Nuno yang merasa senang dengan berakhirnya peerkuliahan tersebut tanpa memikirkan tugas yang baru saja diberikan oleh Dosen barusan. Dan sudah menjadi kebiasannya sejak hari pertama praktikum, mulai dari tugas awal sampai laporan lengkap Nuno hanya bisa meminta dari teman-temannya yang lain.

“Sudah tak usah fikir dulu itu, Ingat e sebentar tugas kalkulus harus kita kumpul, awas memang tidak ada lagi yang mau maju kedepan kerja.” Wati yang duduk di depan Nuno merasa terganggu dengan teriakannya yang mengngagetkan dia yang masih asik menyalin tugas yang ditulis di papan tulis. Secara tak langsung Dia juga menyinggung Nuno yang tak pernah mau maju kedepan untuk mengerjakan tugas atau PR kalkulus setiap Ia diminta maju kedepan untuk menuliskan hasil pekerjaannya.

Uni dan keempat temannya masih sibuk menyalin tugas yang ada di papan. Jauh berbeda dengan sebagian teman-teman mereka yang lain yang sudah asik bermain sana-sini untuk sekedar menghilangkan sedikit penat tentang semua tugas yang ada, ada juga yang sebagian dari meraka telah sibuk mengerjakan tugas laporan.

Tak beberapa lama suasana kelas menjadi hening. Semua sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing yang entah apa saja yang mereka lakukan dalam ruangan ini. Akupun yang duduk paling depan saat itu, tak lagi mengerjakan apa-apa selain sesekali aku menyentuh layar Hpku yang sejak tadi masih lalot membuka situs Facebook. Aku dan ketiga temanku telah memutuskan untuk mengerjakan tugas laporan di rumah masing-masing dan akan saling membantu dan saling mengoreksi jika kami sudah di kampus lagi. Ya… setidaknya itulah solusi terbaik untuk kami saat ini.

Saat itu aku terheran-heran. Rupanya dengan tugas seperti itu bisa mengubah siapapun yang mengerjakannya entah itu merubah Iya menjadi malas atau malah menjadi rajin. Melalui tugas itu juga, ada yang sudah berubah menjadi tukang panjat do’a di Facebok Yang selalu menuliskan setiap do’a meraka berharap agar tugas itu bisa selesai Padahalkan tugas itu dikerjakan bukan untuk di Update. Ada juga yang membuat sebagian dari kami menunjukkan sikap ke egoisan, ada yang merasa ingin benar sendiri bahkan mati-matian mengejar ACC tanpa mau membantu teman yang lain yang masih kebingungan dalam mengerjakan tugas tersebut.

Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan laporan itu ? Atau ada dengan kami ?

***

Ilustrasi Foto: Whinar

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

Comments

comments

Tentang Penulis

MUH. FIKRY kH

%d blogger menyukai ini: