Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerpen

Haruskah Cinta?: Terjerat Cinta Hampa di Posko KKN (Sebuah Cerpen)

https://www.facebook.com/andriy.arlesta.3
Ditulis Oleh Bahrul Fajrih

Aku tak pernah berharap ini akan terjadi. Jika boleh aku meminta, kita lebih baik tak saling mengenal. Tak membuat satu pihak merasa kecewa, terpojok dan tersakiti. Yang ada kita bahagia dengan jalan kita yang sudah ada.-Wellto

15 September 2015

Pagi itu, mentari bersinar terik, namun tetap ada awan yang sedikit menghalangi teriknya mentari. Aku masih asyik di depan televisi sambil menunggu antrian mandi. Sedari subuh air sudah berteriak bersimbah ditubuh teman seposko, terang saja hari ini adalah hari pertama aku dan tema-teman mengajar di sekolah dimana kami akan melaksanakan Pratik lapangan selama 3 bulan ke depan. Seorang gadis datang menghapiriku dengan anyaman benang biru di tangannya yang ku sebut itu handuk. Pertanda giliranku yang menjadi penguasa kamar mandi saat ini. Yang jadi pertanyaan, mengapa harus dia yang membawakanku handuk itu? Bukankah aku bias mengambilnya sendiri? Gadis itu memberikan perhatian yang tak terduga. Tantri. Itu namanya. Dan aku masih bertanya, pantaskah aku mendapatkan semua itu? Bukankah kita baru berkenalan beberapa hari? Aku kandas.

“ Kok fokus banget? Fokus nonton atau focus melamun! Matahari udah mulai naik nih! Nanti telat loh ke sekolah!” Tantri menggerutu. Mencoba menganggu lamunanku.

Deg!

“ Baiklah akan ku ikuti alur cerita ini.” Meniatkan dalam hati.

Aku mengambil handuk itu dari tangannya dan berjalan menuju kamar mandi sembari mengucap terima kasih dengan penuh kelembutan. Dan aku melihatnya tersipu sesaat sebelum aku meninggalkannya. Tanyapun bertambah besar dalam pikiranku.

Beberapa hari yang lalu aku belum pernah mendapat perlakuan dan perhatian yang sedemikian ini. Semuanya sama saja, mereka mengistimewakanku karena aku satu-satunya lelaki di posko ini. Tapi kata istimewa itu belum bisa mengalahkan perhatian dan perlakuan yang baru saja dia tebarkan kepadaku. Ini baru beberapa hari, masih ada hampir dua bulan kebersamaan akan kami jalin.

Setelah aku keluar dari kamar mandi. Pakaian Praktik Lapanganku semuanya sudah disetrika dengan rapi. Sarapan khusus buatannya untukku pun telah siap untuk disantap. Benar-benar mencengangkan bagiku. Baru kali ini lagi aku mendapatkan pelayanan ekstra bak di rumah sendiri. Tak ada lagi kata yang bisa mendeskripsikan perhatian berlebih itu. Namun aku berusaha menganggapnya biasa.

Pagi ini, aku berangkat lebih awal dari mereka. Itu karena jarak sekolah dimana aku ditempatkan cukup jauh dibandingkan mereka. Sebelum aku berangkat, ia berucap, “ Hati-hati di jalan, sebentar langsung pulang yah, jangan singgah-singgah!”

“ oke, bos ! “ ujarku.

***

Pulang sekolah, aku tidak bisa langsung pulang. Ada hal yang harus aku selesaikan bersama teman-teman sepenempatan sekolah, kegiatan non-teaching. Secara otomatis aku akan pulang lambat hari ini ke posko. Saat menunggu semua teman-teman berkumpul, tiba-tiba ponselku berdering. Benar saja, Tantri yang menelpon. Akupun memencet tombol hijau yang ada di pojok kiri atas dibawah layar pada ponselku.

“Halo, assalamualaikum, iya kenapa tant?” sapaku dan langsung bertanya.

“Halo Well, kok belum pulang. Kenapa?” sapanya kembali dan bertanya seolah gelisah.

“Ada rapat sedikit sama teman PPL di sekolah. Mungkin setengah jam lagi baru balik ke posko” jawabku lancar

“Oh iya, setelah itu langsung pulang yah!” pintanya,

“Oke!” ucapku menutup pembicaraan dan memasukkan ponsel ke dalam tas.

Setengah jam sudah aku dan teman-teman membahas tentang kegiatan non-teaching, namun belum ada titik temu lantaran banyaknya ide baru dan bagus yang mereka gagas. Aku pun turut asyik dalam alotnya diskusi. Kami berusaha menganalisa kekuatan, kelemahan, kesempatan danancaman atas tawaran-tawaran program yang ada, dan akhirnya kami mantap akan menjalankan beberapa program. Dan Kami pun memutuskan untuk pulang.

Di perjalan menuju parkiran, aku merogoh tas dan mencari ponselku. Kulihat jam, beberapa panggilan terjawab  dan sms masuk. Ternyata sudah lewat pukul 4 sore dan panggilan dan sms yang semuanya dari tantri masuk ke ponselku sedari tadi. Isi pesannya hampir sama, menanyakan kapan pulang dan sedang dimana. Sesampai di parkiran, aku langsung menghampiri motor bebekku dan menancapkan gas ke arah selatan dari sekolah.

15 menit berlalu, akhirnya aku sampai di posko. Kulihat Koordinator Kelurahan, bu santi dan semua teman-teman posko sudah bersiap ke suatu tempat. Namun tidak dengan Tantri. Aku memarkir motorku dibawah pohon mangga dan langsung menghampiri mereka.

“Loh, Bu! Tantri dimana?” tanyaku langsung

“Masih nunggu kamu tuh di dalam, katanya dia sudah janjian sama kamu ke kantor lurah sama-sama. Dia sudah bilang ke kamu kan, kalau kita akan ke kelurahan sore ini juga?” jelas bu Santi sembari memastikan

“Seperti itu yah. Belum tuh bu, Tantri belum bilang apa-apa. Oh ya, saya masuk dulu ya bu, ganti baju. Nanti saya dan Tantri nyusul” jawabku dan langsung menuju kamar.

Setelahmasuk kamar, kutemui Tantri menyiapkan makan siang untukku meskipun sudah sore.

“Well, makan dulu sebelum pergi. Dari tadi aku nunggu kamu loh” ajaknya

“Oh ya?, kamu sudah makan?” tanyaku

“belum, kan nunggu kamu.” Jawabnya

“Kenapa harus nunggu aku?” tanyaku lagi

“Kan teman harus gitu, masa kamu makan makanan sisa?” jelasnya.

Aku tak habis pikir kalau dia rela menunda makan siangnya karena hanya menunggu aku. Sekali lagi aku hanya mengikuti alur cerita.

***

Beberapa minggu berlalu, jika aku sedang berada di posko aku mendapat perlakuan yang sama darinya. Menyetrikakan, mencucikan pakaian, menyiapkan sarapan, hingga menunggu untuk makan bersama dan juga menjalankan program posko harus bersama. Dia berusaha untuk selalu ada di sisiku, membuatku nyaman bersamanya. Pengorbanan yang ia berikan hampir sama halnya dengan apa yang ibuku berikan padaku. Bedanya ada sesuatu dalam sesuatu yang ia harapkan dariku. Prasangkaku mungkin salah, namun wajar bagiku untuk menghimpun pemikiran seperti itu atas perlakuan dan perhatian yang semakin hari semakin menjadi.

Tepat minggu ke lima kami berposko di kelurahan ini, aku jatuh sakit. Aku kelelahan saking banyaknya program kerja yang harus diusaikan karena mengejar deadline yang tinggal 3 minggu lagi. Sikapnya kepadaku masih seperti biasanya perhatian penuh tercurah padaku, malahan lebih. Dia merawatku, mengatur jadwal minum obatku. Dia selalu di sampingku, hingga dia bolos mengajar hanya karena ingin menjagaku. Pengorbanan yang sungguh besar.

Karena aku tak ingin merepotkan dia, aku memilih pulang ke kosan sementara waktu. Aku mematikan nomorku sementara waktu. Aku takut dia kehilangan fokus karena hanya untuk memikirkan aku. Bukan maksud memutus komunikasi secara total. Tapi hanya menjaga-jaga saja.

19 Oktober 2015

Hari ini terhitung2 hari aku hengkang dari posko, aku mulai pulih. Namun hari ini juga, aku harus memaksakan diri menuju posko, karena masih ada beberapa program yang belum terlaksana secara menyeluruh.

Sesampai di posko, aku mendapati teman-teman seposko sedang sibuk menyelesaikan beberapa laporan harian. Namun aku tak melihat kehadiran Tantri di sana.

“Loh, Tantri dimana bu?” tanyaku kepada teman poskoku yang hampir semuanya ibu-ibu

“Kamu ini kok nanyanya Tantri terus sih, belum juga ngucapin salamnya.” Ujar salah satu dari mereka.

“maaf, assalamualaikum!” langsung mengucap salam

“wa alaikumussalam” jawab mereka serempak

“Tantri sudah 2 hari sejak kamu tidak ada, dia juga tidak di posko, ibu pikir dia sama kamu” jelas ibu korlur

“tidak, bu. Mungkin dia kembali ke rumahnya” jawabku mencoba menebak. Sesaat sebelum aku mengambil posisi duduk di sampng rak buku tempat semua file posko diletakkan.

“iya bu, si Tantri balik ke rumahnya. Kemarin sempat curhat sama saya dan bu Ria” tegas teman posko yang bernama bu Dewi.

Sementara mereka asyik bergurau, aku mengambil beberapa file yang ada di rak dengan niat membantu menyelesaikan tugas posko. Tapi tak sengaja aku membuka buka laporan surat masuk dan keluar posko yang selama ini dikelolah oleh Tantri. Dan plak! Aku menemukan tulisan “kamu semangatku, Wellto!”. Aku hanya diam dan menyimak percakapan mereka.

“Memangnya Tantri kenapa bu, Dia sakit? Kayak ada kontak batin saja dengan si Wellto.” Tanya bu Santi peduli sambil bergurau.

“akh, ibu Santi ini macam tidak tahu saja. Biasa bu! Anak muda. Kita juga pernah mengalaminya” kata bu Ria menggoda

“Maksud ibu?” tanyaku heran. Sambil mencari tau apa maksud tulisan di buku laporan itu

“sebenarnya si Tantri itu suka sama kamu well, kamu gak pernah merasa tidak dengan perlakuan dan perhatian dia ke kamu selama ini? Dia sudah bilang semuanya ke kita kok. Dia tidak tahan di posko tanpa ada kamu. Karena kamu adalah semangat bagi dia” jelas bu Dewi sejelas-jelasnya.

Aku tertunduk malu dan sudah mendapatkan klimaks dari alur cerita yang ku tunggu. Saat ini aku hanya menanti kedatangan Tantri dan menunggu penjelasan dari dia. Apakah ini nyata atau hanya ucapan konyol dari ibu-ibu yang sering menggoda kami, mahasiswa regular.

Hati bagai disambar petir yang diiringi gemuruh yang sangat dahsyat. Sepertinya aku sulit untuk menerima apa yang sudah ia lakukan di masa lalu padaku. Aku tak menyangka apa yang ia lakukan bermakna menginginkan diriku seutuhnya. Selama ini aku mengikuti arus karena aku pikir hal seperti ini dilakukannnya pada semua orang, namun nyatanya khusus padaku.

***

Esoknya, ia datang. Perlakuannya sudah beda. Sepertinya dia sudah tau, kalau aku sudah mengetahui semuanya. Belum lagi, kabar ini sudah menyebar ke posko tetangga kelurahan. Dan isu ini sempat menjadi trending topic selama beberapa hari di mahasiswa KKN di beberapa kecamatan.

Setelah keadaan tenang, aku berusaha berbicara dengannya tentang perkara ini.

“Tant, apa isu yang beredar itu benar?” tanyaku padanya.

“Tidak, well. Itu semua tidak benar” jawabnya membelakangiku, seperti menahan sesuatu.

“Ayolah jujur!” ujarku

“Betulan, tidak sama sekali” tegasnya.

“Lalu apa maksud dari tulisan di buku laporan itu?” tanyaku berani.

“Cuma iseng kok” jawabnya menyangkal.

“Lalu apa maksud curhatanmu ke bu Dewi dan bu Ria, saat aku tak di posko?” tanyaku memaksa

“Ya, ya itu hanya sensasi saja” jawabnya sulit.

“Baiklah aku percaya itu. Aku pergi” kataku lalu berbalik dan berniat pergi.

Mungkin benar katanya, semua hanya sensasi. Tapi perkataannya tak didukung alasan jelas atas itu. Aku belum sepenuhnya percaya. Namun apa mau dikata, itu adalah perkataanya. Dan belum pernah aku mendapatkan kebohongannya. Untuk kali ini akupun masih percaya. Kumulai mencobamembuat langkah baru untuk beranjak meninggalkannya.

“Berhenti!”suara itu tiba-tiba menggagalkan langkah pertamaku.

“kenapa?” tanyaku hendak berbalik namun enggan.

“Benar, aku suka kamu dan aku ingin kamu”jawabnya lurus dan berusaha menahan emosi yang ada.

“Sungguh?” tanyaku menanti kejelasan.

“Aku merasa nyaman bersama kamu, dan aku adalah orang yang paling bahagia menanti kedatanganmu” jelasnya.

“Aku sudah ungkapkan semuanya padamu dan aku tak butuh jawaban dari kamu. Aku cukup bahagia, kamu mengisi hari-hariku di sini meski hatimu belum sempat aku miliki. Kamu menginspirasiku, kamu membuat aku kehilangan cara untuk menemukan sisi burukmu. Namun akan lebih bahagia lagi jika kamu membalas perasaanku dengan hal yang sama. Dan akulah orang yang paling amat berbahagia jika suatu kelak bisa menghabiskan waktu bersamamu” lanjutnya

“Baiklah, jika itu keinginanmu. Rasa ini tak mungkin ku dustakan” balasku

“Jadi? Kamu?” berbalik menghampiriku dengan deraian tangis ceria

“Iya, aku sudah mantap memutuskan dari jauh hari” ucapku dengan senyuman terbaikku.

“Benarkah?”semakin dekat dan hendak bersiap memelukku kegirangan.

“Benar” berusaha mundur dan menjauh.

“lalu?” Tanyanya penasaran.

“Aku memutuskan untuk setia dengan apa yang sudah ku miliki saat ini” jawabku tersenyum.

Dia pun ikut tersenyum dan tersipu. Menundukkan kepalanya dan memalingkan tubuhnya ke arah sebelumnya.

“Kamu adalah wanita yang baik. Tak baik jika menjadi yang ke dua. Dan pastinya tidak akan mau untuk diduakan. Aku telah memiliki kekasih yang sudah aku tinggali janji untuknya. Aku tak mau menyakiti hatinya. Pun aku tak mau kamu lebih sakit lagi. Maaf aku menolakmu. Aku bukan yang terbaik untukmu. Aku tak pernah sedikitpun menyimapan bibit cinta terhadapmu. Aku hanya berusaha mengikuti alur atas skenario hidup yang terjalin diantara kita selama KKN ini.Sekali lagi, maaf.”

“Sebenarnya aku sulit untuk menerima keputusanmu, aku cukup bahagia pernah bersamamu meski tanpa ikatan” ujarnya lapang dada.

***

2 minggu setelah kejadian itu, KKN pun berakhir. Dan rasa yang pernah ada terhadapku harus Tantri kubur dalam-dalam. Aku dan dia memutuskan untuk berteman. Namun seiring berjalannya waktu aku sudah jarang bertemu dengannya. Meski biasanya bertemu, jarang kami bertegur sapa. Apakah mungkin dia berusaha menghilangkan aku dari ingatannya? Sekali lagi maaf untuk Tantri. Rasaku bukan untukmu.

Tentang Penulis

Bahrul Fajrih