Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Tokoh & Inspirasi

Yaumil Masri : Drop Out dari Kampus, Mendirikan Sekolah, hingga di Undang Kick Andy

Yaumil Masri

Awal masuk kuliah

Awal saya masuk kuliah tahun 2004 di jurusan Biologi. Saya merasa salah masuk jurusan. IPK ku bahkan tidak cukup dua. Sehingga ditahun 2015 saya pindah ke jurusan Bahasa Inggris. Nilaiku mulai berangsur baik disemester 3 dan 4. Bahkan saya bisa memperoleh beasiswa.

Saat semester 5, saya mulai drop. Saya menderita penyakit paru-paru hingga saya harus dioperasi. Selain itu, saya juga harus belajar mandiri untuk membiayai diri sendiri. Saya mulai kerja dengan mengajar dan memandu turis. Jadi, otomatis kuliahku jadi terbengkalai.

Berselang dua tahun, saya tidak masuk kuliah dengan rutinitas pekerjaan. Namun, jika ada kesempatan ke kampus, saya pasti akan ke perpustakaan. Jika dalam satu hari orang membaca satu buku, maka saya bisa membaca tiga buku, agar tidak tertinggal dengan yang lainnya.

Bukan Tidak Bisa Menyelesaikan, Tapi Memilih Untuk Tidak Menyelesaikan

Tahun 2014 saya ujian proposal dan saya juga menyelesaikan skripsiku hingga selesai. Namun saya tidak maju ujian skripsi dan memilih untuk mundur, karena prinsip yang saya pegang, hingga akhirnya saya Drop Out dari kampus. Saya berpikir bahwa lebih baik tidak sarjana daripada merekayasa semua nilai karena saya tidak kuliah selama beberapa semester. Di zaman saya, tidak sedikit mahasiswa melakukan itu. Saya berpikir bila saya menyelesaikan kuliah dengan nilai yang di rekayasa, apa bedanya saya dengan orang lain yang melakukan rekayasa-rekayasa atau apalah, dan ini adalah masalah mental dan keberanian. “Saya tidak mau berbohong pada diri sendiri” and finally, oke fix. Saya berhenti.

Tekanan yang Datang Bertubi-Tubi

Ibu saya jatuh sakit. Saya sempat tidak pulang selama tiga bulan. Dan tekanan datang dari berbagai arah. Baik dari orangtua, teman-teman, dan lingkungan. Tekanan itu begitu berat. Namun justru, semakin besar tekanan itu, maka itulah yang menjadi alasan saya harus berhasil.

Ketika orang diluaran sana punya pilihan untuk memilih. Saya tidak ada pilihan untuk memilih selain membuktikan lewat kontribusi yang saya buat. Saya akan memperjuangkan apa yang saya percayai.

Tentang Penulis

Suci Fitrah Syari