Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini

Aksi Sampah Bersih ? Jangan Tunggu Hari Peduli Lingkungan

Realita dan Data

Sampah tidak lain berasal dari manusia sendiri. Apa yang berserakan di jalan-jalan itu adalah keengganan manusia membuang sampah pada tempatnya. Sampah-sampah itu hasil tradisi “habis manis sepah dibuang”. Es Kepal habis, plastiknya ditinggal bukan pada rumahnya. Cobalah merenung, berapa sampah yang kita buang setiap harinya? Lalu kalikan dengan umur kita sekarang. Dengan margin error yang besar sekalipun, perkiraan sampah yang kita buang tetap memprihatinkan.

Beberapa media mainstream mewartakan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ke-dua dunia. Sungguh sebuah prestasi. Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai 187,2 ton. Tentu bukan pemandangan yang asing, melihat teluk palu yang dihiasi sampah beragam warna. Malah jadi kebiasaan, rekreasi ke Sivalenta (atau pantai lainnya) menyambi datang menimbun sampah di pasir (meski secara tidak sadar). Sampah telah menjadi bagian hidup dari manusia.

Baca juga : Dampak Aktivitas Masyarakat Disekitar Muara Kampulere

Menurut data Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2017, perkiraan produksi sampah per hari kota Palu sebesar 920 m3. Kira-kira setara ruangan 9,7 x 9,7 x 9,7 m, bisa dibayangkan besarnya. Persentase sampah yang tertanggulangi dalam sehari sebanyak 65,22%. Sudah bisa dipastikan, sisanya dari hari ke hari menumpuk hingga hujan lebat menampakkan sampah-sampah manusia dihadapan manusia itu sendiri. Herannya, kebanyakan manusia merasa jijik. Seharusnya jijik jua terhadap perbuatannya, bukan hanya hasil perbuatannya.

Sampah memang tidak akan mungkin kita hilangkan 100%. Namun, mengurangi keberadaannya di planet bumi tentu bisa kita lakukan bersama. Buang sampah pada tempatnya (jangan hanya dijadikan slogan), bukan di saluran air, sungai ataupun pantai. Meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, bisa dengan menggunakan tas untuk membawa barang belanjaan. Terutama jika yang dibeli hanya sebungkus mie dan sebutir telur saja. Membawa air minum dari rumah/kos bisa mengurangi jumlah sampah gelas minuman serta botol plastik sekali pakai.

Nah, yang terpenting dari itu, hemat! Anak Kos, wkwk. Ada begitu banyak kebiasaan kecil lainnya yang dapat kita lakukan untuk lingkungan setiap harinya. Sejauh apapun orang melangkah, selalu dimulai dengan sebuah langkah awal. Bakti untuk negeri, mari mulai dengan hal-hal kecil. Yang terpenting, tetap konsisten.

“Janganlah tunggu bumi rusak baru ingin bertindak. Bumi hancur, kehidupan pun mesti hancur lebur. Jangan tunggu hari peduli lingkungan baru sadar akan bahaya sampah, sebab kita membuangnya setiap hari, bukan setiap tahun kawan.”

 

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

Tentang Penulis

Ashari Ramadhan

Dia mengharapkan mu bersusah payah membaca apa yang ditulisnya dengan susah payah pula.
Multatuli