Perayaan Natal Membawa Masalah?

Sebelum kita membahas jauh tentang masalah-masalah yang timbul dalam perayaan natal, mari kita renungkan dan pahami apa sebenarnya definisi dan makna natal hingga perkembangannya yang sangat pesat penuh dengan pesta pora sehingga membuat banyak masalah.

Natal (dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran”) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember.  Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang berasal dari Barat antara lain adalah pohon Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.

Dari definisi diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa natal sekarang banyak mengandung aspek Non-agamawi sehingga akan menimbulkan banyak permasalahan.

Berikut masalah-masalah yang ditimbulkan oleh Natal :

  1. Sejarah dan Asal Mula Natal

Masalah yang ditimbulkan pertama sudah ada sejak kita semua belum lahir bahkan jauh sebelum Indonesia Merdeka. Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk di lakukan bahkan ALKITAB tidak pernah mencatat Perayaan Hari lahirnya Yesus dilakukan oleh para Rasul dan jemaat mula-mula Loh !!!

Ada satu acara penting yang sangat dikenal oleh orang Kristen abad pertama, yaitu Peringatan kematian Yesus. Yesus sendiri memberi tahu murid-muridnya kapan itu harus dilakukan dan cara melakukannya. Perintah ini, juga tanggal kematian Yesus, disebutkan di dalam Alkitab.—Lukas 22:7, 19; 1 Korintus 11:25.. Yah sebenarnya perayaan hari ulang tahun dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir.

Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria (Mesir). Perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari. Bahkan ada yang berpendapat Yesus tidaklah lahir tanggal 25 Desember (musim dingin), itu diperkuat oleh dua peristiwa menjelang kelahiran Yesus :

  • Pendaftaran penduduk. Tidak lama sebelum kelahiran Yesus, Kaisar Agustus mengeluarkan ketetapan ”agar seluruh bumi yang berpenduduk didaftar”. Setiap orang harus mendaftar di ”kotanya sendiri”, sehingga mereka mungkin harus mengadakan perjalanan selama seminggu atau lebih. (Lukas 2:1-3) Ketetapan itu, mungkin untuk keperluan pajak dan militer, tidak disukai rakyat. Jadi, Agustus kemungkinan besar tidak akan menambah kekesalan rakyat dengan memaksa mereka mengadakan perjalanan jauh selama musim dingin.
  • Kawanan domba. Para gembala ”tinggal di tempat terbuka dan sedang menjalankan giliran jaga atas kawanan mereka pada waktu malam”. (Lukas 2:8) Buku Daily Life in the Time of Jesus mengatakan bahwa kawanan domba berada di luar dari ”minggu sebelum Paskah [akhir Maret]” sampai pertengahan November. Buku itu juga mengatakan, ”Mereka melewatkan musim dingin di dalam kandang; dan dari sini saja nyata bahwa tanggal tradisional untuk Natal, yaitu pada musim dingin, tidak mungkin benar, mengingat Injil mengatakan bahwa para gembala berada di padang.”

Dari asal-mula natal saja sudah menjadi masalah yang begitu besar karena perayaan natal bukanlah perintah Yesus dan para rasul bahkan tanggal perayaannya pun masih menjadi misteri karena tidak ada tanggal yang pasti melainkan adopsi dari acara-acara kafir.

  1. Perayaan Natal di kampus-kampus

Perayaan natal sekarang sudah menghilangkan esensi natal itu sendiri, bahkan sudah sangat menyimpang. Ketika Yesus lahir bagaimana keadaan saat itu ? bukankah penuh dengan kesederhanaan ? dulu sempat ada kelompok yang ingin menghapus elemen-elemen yang tidak alkitabiah yang dikenal dengan kelompok Puritan bahkan mereka sampai melarang perayaan Natal dan diganti dengan satu hari puasa, tapi yang terjadi adalah kerusuhan dari para pemrotes selama berminggu-minggu sehingga raja Inggris saat itu mencabut larangan tersebut. Bagaimana dengan perayaan natal di kampus-kampus ?

  • Pohon Natal

Ketika ada pohon dengan hiasan lampu, bola-bola, boneka dan salib atau bintang diatas pohon tersebut hampir semua orang tau bahkan yang bukan umat kristiani pun tahu “THIS IS CHRISTMAS TIME” padahal pohon natal tidak ada di Alkitab. Penyembahan pohon, yang lazim di kalangan orang kafir Eropa, masih dijalankan setelah mereka masuk Kristen.” Misalnya, itu terlihat dari kebiasaan ”menempatkan pohon Yule pada pintu masuk atau di dalam rumah selama hari raya pertengahan musim dingin. Jadi yah memang buatan Manusia perayaan natal seperti ini. Untuk pohon natal sendiri masih menjadi dekorasi utama untuk perayaan natal di dalam kampus padahal berdasarkan sejarah Alkitab tidak pernah di singgung tentang pohon natal.

  • Sinterklas

Seorang tokoh legenda, yang mengunjungi rumah anak-anak pada malam dengan kereta salju terbang ditarik beberapa ekor rusa kutub membagi-bagi hadiah. Santo Nikolas yang sebenarnya berasal dari kota Myra dan diyakini hidup pada abad ke-4 Masehi. Dia terkenal karena kebaikannya memberi hadiah kepada orang miskin. Di Eropa (lebih tepatnya di Belanda, Belgia, Austria dan Jerman) dia digambarkan sebagai seorang uskup yang berjanggut dengan jubah keuskupan resmi, tetapi kemudian gambaran ini menjalar ke seluruh dunia dengan penambahan sejumlah atribut, seperti topi dan sebagainya. Ada pengamat agama yang menyatakan Sinterklas justru merupakan simbol-simbol sekuler dalam Kristen yang memang tidak ada Referensinya Alkitab, dan dikomersialkan sedemikian rupa sehingga simbol Sinterklas diusahakan lebih populer daripada hal-hal yang berkaitan langsung dengan Natal yang sesunggunya, misalnya gambar bayi Yesus, dalam setiap perayaan Natal. Di kampus sendiri masih menggunakan atribut yang digunakan oleh sinterklas untuk dekorasi perayaan natal dan setiap dekorasinya identik dengan warna  merah seperti warna semua atribut dari sinterklas.

  • Dekorasi berlebihan

Setiap perayaan Natal pasti tidak lepas dengan dekorasi natal seperti topi dan tongkat sinterklas, belum lagi pohon natal beserta lampunya dan masih banyak lagi. Bisa kita lihat perayaan-perayaan natal di kampus dengan begitu banyak dekorasinya Bukankah lebih baik anggaran untuk dekorasi di fokuskan dengan memberi bantuan kepada orang-orang miskin dan gelandangan yang lebih membutuhkan ? bukankah dekorasi tersebut hanyalah menghamburkan uang ? Sedangkan setiap harinya masih ada saja orang yang mati karena kelaparan, alangkah baiknya uang lebih yang ada pada kita diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Tidak sedikit aggaran untuk penyelenggaraan natal menghabiskan jutaan rupiah khusus dekorasi padahal dalam ibadah natal yang terpenting esensinya.

  • Pentas Seni

Dalam perayaan natal ada pentas seninya juga loh, jika kita mengikuti perayaan natal yang diadakan di kampus, tidak sedikit ada penampilan Drama, Dance (yang tidak ada hubungannya), dan masih banyak lagi. Yah setahu saya waktu Yesus lahir Ia disambut dengan para gembala yang datang menyembah Dia dan para orang majus yang memberikan persembahan. Para gembala dan orang majus tidak ada yang mempersembahkan pentas seni saat Yesus lahir hehehe…

  • Penentuan Natal Masing-masing

Tidak cukup dengan tanggal 25 desember sebagai simbol lahirnya Yesus, setiap kampus bahkan fakultas melakukan perayaan natal dengan memilih tanggal sendiri di bulan desember, yah semoga saja tujuannya bukan untuk unjuk gigi siapa yang paling bagus perayaannya, kalau dibuatnya bukan tanggal 25 kan bisa saling mengunjungi perayaan natal masing-masing.

  1. Pesta Pora dan Mabuk-mabukan

Jika sudah tanggal 25 sampai tahun baru tidak sedikit acara natal di denominasi dengan Alkohol dan pesta pora, setiap rumah biasanya menyediakan minuman tersebut, jadi saat ada tamu berkunjung untuk mengatakan “Selamat Natal, Damai sejahtera untuk rumah ini” dan di balas dengan mau minum Bintang ?

Ini bintang apa yah ? bintang dalam alkitab yang menunjukkan jalan untuk orang majus atau bintang merk minuman 😀

Banyak juga mahasiswa merayakan Natal dengan pulang kampung untuk berkumpul bersama kawan-kawannya dengan tujuan minum bersama. Apakah demikian esensi natal yang di inginkan ?

Dari masalah-masalah diatas sebenarnya Natal boleh-boleh saja dirayakan tapi tidak boleh berlebihan bahkan jangan sampai menimbulkan masalah. Natal jika sesuai esensi nya akan menimbulkan damai di hati kita.

Saya berharap perayaan Natal di kampus dapat menghidupkan suasana natal yang sesuai esensinya yang tidak berlebihan dan dilaksanakan dengan Alkitabiah

Kita bisa mengambil contoh perayaan natal yang masih alkitabiah seperti perayaan Natal ritus timur banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir November. Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.

Mungkin bagi kalian masih banyak list-list masalah yang ditimbulkan akibat Natal 😀 , bisa berikan komentar. Thank’s GBU

***

Even
– 
Ketua BEM FATEK 2015
– Koordinator PSDM UKKOM (Lembaga Persekutuan Mahasiswa Kristen) FATEK UNTAD 2016-2017

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Natal
https://www.jw.org/id/ajaran-alkitab

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Tadulako Menginspirasi “Dari Angan Menjadi Dorongan”
Next post 132 Trilliun Rupiah Kerugian Akibat Perubahan Iklim