Cerpen

Cerpen | Hegemoni Klandestin

Dia Tak Perlu Tahu Bahwa Kau Sedang Merindu, Dia Hanya Perlu Kau Selalu Ada Untuknya Bertutur Kata”

Mencintai dalam diam adalah seperti menari takjim sendirian di antara kabut pagi di sebuah padang rumput yang megah dan indah. Meski tidak tersampaikan, tidak terucapkan, demi menjaga kehormatan perasaan, kita selalu tahu itu sungguh tetap sebuah tarian cinta. Semoga besok lusa bisa menari bersama dalam ikatan yang di restui agama, dicatat oleh Negara” ~Tere Liye 

Selamat malam kamu yang diam saja disana, terima kasih masih mau menggapku sebagai sahabat meskipun bagiku terasa pekat. Hatiku masih saja jatuh padamu, tertatih menanti datangnya bidadari penyemangat dan pelengkap jiwa yang selalu sepi. Kita selalu saling mengingatkan agar tetap saling mendekap sebagai sahabat.  Saling menjaga dengan tulus, saling membantu dengan ikhlas. Aku akan membuatmu benar-benar mengenal sejatinya arti sahabat, yang selalu hadir di setiap bergesernya waktu secara perlahan.  aku berharap suatu saat kau lebih dari sahabat dalam dekapan kasih sayang seutuhnya setelah akad.

Selamat malam kamu yang diam saja disana, terima kasih masih mau menggapku sebagai sahabat meskipun bagiku terasa pekat. Hatiku masih saja jatuh padamu, tertatih menanti datangnya bidadari penyemangat dan pelengkap jiwa yang selalu sepi. Kita selalu saling mengingatkan agar tetap saling mendekap sebagai sahabat.  Saling menjaga dengan tulus, saling membantu dengan ikhlas. Aku akan membuatmu benar-benar mengenal sejatinya arti sahabat, yang selalu hadir di setiap bergesernya waktu secara perlahan.  aku berharap suatu saat kau lebih dari sahabat dalam dekapan kasih sayang seutuhnya setelah akad.

Aku bukanlah orang yang pandai mengutarakan serdadu hati yang sedang merindu, separuh hati yang pergi dengan sendirinya memasuki ruang hampa tak berpenghuni. Masih saja tak berarah, padahal selalu kupasrahkan pada alur takdir, namun tetap saja ia tak hadir mengobati rindu yang sulit beringsut. Mungkinkah ada yang salah dengan caraku memohon, ataukah ini memang belum waktunya untuk kau sadari ketulusuan ini benar-benar hakiki. Sesekali ku berpikir untuk enyah dari hati yang terkadang terisak ini, namun aku tak begitu mahir pergi bahkan tak tau lagi caranya melupa apalagi itu tentangmu. Mohon Jangan biarkan aku terlalu lama menunggu hingga jari-jemariku melepuh karena peluh kesah lelahnya menanti.

I am just a part of scenery, like an old shoe or a rug that you walk on everyday but don’t even really see (Aku hanyalah sebuah bagian dari sebuah pemandangan seperti sebuah sepatu tua atau karpet tua yang kamu gunakan untuk berjalan setiap hari tapi tak pernah dilihat)”

Saat kerinduan itu datang rasanya dada ini sesak, tubuh ini gemetar, kepala ini berkecamuk penuh kebingungan. Risau yang berkepanjangan membuatku jauh dari ketenangan. Selalu ku coba tegar menghilangkan bunyi namamu di dalam otakku namun suara itu terlalu lantang menghampiri lakuna otak sadarku.

Lemah, itu keadaanku saat ini. Ketidak mampuanku membuka ruang baru menyambut cahaya untuk menerangi kelam. Jika kamu melihatku, aku sedang berusaha sedang baik-baik saja meski ada kerindauan yang tertanam. Di sisi lain aku selalu bertanya-tanya pada diriku, mengapa harus kamu ? mengapa terasa seperti beban ? Aku takut kau tahu kerinduan ini seperti aku takut kehilanganmu.

Tapi tenang saja satu-satunya cara untuk menghilangkan pilu ini dengan selalu menyebutkan namamu dalam doa-doa yang senyap. Sering ku adukan kau pada Tuhan atas kerinduan yang di sebabkan olehmu. Terkadang gaduh hatiku meronta ingin mengungkap semua rahasia ini, tapi logikaku berteriak “tidak” jangan sesekali mengenggam tangannya sebelum kau mampu mengahalalkanya.

Yah tentu aku ingat, Tuhanku tidak membenarkan perbuatan itu jangan coba mencari alasan atas tindakanmu. Dalam kutipan buku itu ku baca “di pelosok kota manapun keberadaanmu jika berjodoh pasti bertemu”. Semakin ku teguhkan hatiku belajar semampunya menghormatimu sebagai pemilik hati yang tak sempat kau sadari. Aku sudah cukup terlatih merawat hatiku, menjaga agar tidak beranjak pergi darimu, meskipun kau tidak tahu berat rasanya kerinduan yang ku pikul. Tidak ada tempat menghindar, hati ini benar-benar untukmu, tapi aku sangat percaya bahwa takkan ada yang bisa bersama jika sang pemilik kerinduan tidak menghendaki bersama, hanya dialah (ALLAH SWT) yang bisa membolak-balikkan hati.

Sesekali ku ikut kajian ustad spesialis jodoh dan kebetulan sekali tema kajian itu tentang cinta. Beliau menjelaskan ada dua jenis cinta, pertama cinta hakiki :  yaitu cinta lillahi (karena Allah SWT) dan kedua cinta sensasi (hanya sebatas nafsu dan sensasi saja). Beliau menjelaskan salah satu masalah pada pemuda yaitu tentang cinta, dimana pemuda kurang mampu mengontrol diri dari belenggu nafsu, akhirnya lahirlah perasaan sensasi yang tak berarti seperti ilusi untuk memenuhi ambisi.

Semakin teguh hatiku seolah berbisik “jangan risau Tuhan tidak pernah salah menempatkan tulang rusukmu”. Ungkapan lain yang sering ku dengar “mencintai tak harus memiliki” itulah ungkapan sederhana yang menjadi penyemangat. Akupun berasumsi “jangan pernah takut dan ragu tentang jodoh , jangan sesekali menyentuhnya sebelum akad pernikahan”. Tetap optimis tinggalkan jejak-jejak kumuh masa lalu yang menyisihkan letupan kenang. Fokus ke study aja dulu biar siap finansial buat halalin dia, dan jauhi status pacaran yang membuat kita semakin jatuh.

Allah SWT berfirman :

 Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”  (Q.S Al-Isra : 32)

 

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

Tentang Penulis

zul masrikail