Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini Tahukah Kamu

Palu – Koro Bergerak, Saatnya Memetik Hikmah Kejadian 28 September 2018

Ditulis Oleh Muhammad Abduh

Kejadian gempa, tsunami, dan likuifaksi terjadi tanggal 28 september. Gempa yang melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala ini pasti akan terus di ingat sepanjang sejarah kebencanaaan nasional.  Selain itu, banyak mengundang peneliti – peneliti luar negeri serta bantuan internasional. Kejadian yang terjadi di palu beberapa saat yang lalu, karena adanya pergeseran sesar atau patahan dengan kekuatan M 7,4 sehingga memicu terjadinya gempa, tsunami serta likuifaksi.

Palu merupakan kota yang di lalui sesar atau patahan yang membentang membelah teluk palu bagian utara hingga ke koro. Mengapa sesar atau patahan ini di namakan Palu – Koro? Karena sesar ini melewati kota palu hingga ke koro dengan panjang sesar kurang lebih 1000 km sehingga dinamakan Sesar Palu – Koro.

                            Peta Geologi Wilayah Palu – Koro (Sompotan, 2012)

Tsunami di palu sebelumnya sudah pernah terjadi seperti yang dilansir pada “Kompas.id tanggal 6 oktober, Palu Tumbuh Ingkari Daya Dukungnya” yakni sejak 1800an sebanyak 18 kali yang merupakan kejadian yang paling banyak di Indonesia, di bandingkan dengan kejadian sebelumnya tinggi gelombang tsunami relatif kecil. Contohnya pada tahun 1927 gempa berkekuatan M 6,3 memicu tsunami hingga 15 m begitu juga pada tahun 1968 gempa M 7,4 memicu tsunami di teluk palu hingga 10 m. Meski tsunaminya lebih tinggi, korban saat itu lebih kecil yaitu 12 orang tewas pada tahun 1927 dan 200 orang tewas pada tahun 1968. Sedangkan  likuifaksi sudah lama di ketahui dalam bahasa lokal masyarakat menyebutnya nalodo, tempat-tempat tersebut yang terkena dampak baru mulai di huni pada tahun 1970.

Pada tahun 2012 Kementrian Energi Dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi bidang Pusat Air Tanah Dan Geologi Tata Lingkungan telah melakukan Studi Bahaya Likuifaksi Palu Berdasarkan Data Geologi Teknik yang di tulis oleh Risna Widyaningrum maka di dapatkan hasil dari daerah yang  berpotensi Likuifaksi Terhadap tata guna lahan yakni

1. Petani Sangat Tinggi

Probabilitas untuk periode ulang 50 tahun adalah sebesar lebih dari 54,44 % terdapat pada daerah Kalukubula, Birobuli, Tatura, Sunju, Tatura, Lolu, Kawatuna, Lere, Birobuli Selatan Yang berpotensi mengalami penurunan tanah lebih dari 5 cm dan perpindahan lateral lebih dari 15 cm

2. Potensi Tinggi

Probabilitas untuk periode ulang 50 tahun adalah sebesar 11,90 % – 54,44% yang terdapat pada daerah Lolu, Besusu, Talise, Bayaoge, Talise, Tanamodindi, Lasoani, Petobo yang berpotensi mengalami penurunan tanah kurang dari 5 cm dan perpindahan lateral lebih dari 10 cm

3. Potensi Sangat Rendah – Rendah

Probabilitas untuk periode ulang 50 tahun adalah sebesar kurang dari 11,90% pada daerah Besusu Tengah, Kalukubula, Dolo Kotarinau, Kotapulu, Baliase, Tatura, Lolu Selatan, Besusu Barat, Birobuli, Birobuli Utara, Kamoji yang berpotensi mengalami penurunan tanah kurang dari 5 cm dan perpindahan lateral lebih dari 10 cm.

Berikut adalah Peta Zonasi Bahaya Likuifaksi Daerah Palu dan Sekitarnya.

                               Peta Zona Bahaya Likuifaksi Palu (Widyaningrum, 2012)

Banyak yang beranggapan ini adalah azab yang di berikan tuhan, tetapi menurut pandangan saya ini adalah kekeliruan dalam pembangunan yang mengesampingkan potensi bahaya bencana alam yang telah berulang kali di sampaikan oleh bapak JR. Katili (Kompas, 20 Juli 1976), beliau adalah lulusan pertama doktor bidang geologi dari Institut Teknologi Bandung dan juga di Indonesia sejak 1970.

Jadi mari kita ambil hikmah dari kejadian ini dengan meningkatkan keimanan serta menganggap semua peristiwa yang terjadi menjadi cobaan bagi kita. Maka dari itu mari membangun palu kedepannya dengan berlandaskan wawasan lingkungan dan mitigasi bencana alam.

Referensi

Arif, A., 2018. Kompas: Humaniora. [Online] Available at: https://kompas.id/baca/utama/2018/10/06/palu-tumbuh-ingkari-daya-dukungnya/
[Accessed 19 Oktober 2018].

Sompotan, A. F., 2012. Struktur Geologi Sulawesi, Bandung: Perpustakaan Sains Kebumian Institut Teknologi Bandung.

Widyaningrum, R., 2012. Penyelidikan Geologi Teknik Potensi Likuifaksi Daeah Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Bandung: Kementrian Energi Dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi Bidang Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan.

 

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

Tentang Penulis

Muhammad Abduh

TEKNIK GEOLOGI 14