Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini

Haruskah “Left Grup” Dulu, Agar Kamu di Anggap “Ada” di Grup WhatsApp?

Ditulis Oleh Suci Fitrah Syari

Rasanya di diemin di dunia nyata itu sama gak enaknya dengan di diemin di media sosial. Apalagi di situasi kamu butuh banget respon orang-orang. Paling perihnya kalau chat mu di grup whatsapp adalah chat terakhir dengan akhiran tanda tanya dalam kalimatnya sebagai penekanana bahwa itu pertanyaan yang butuh untuk di jawab, tapi nyatanya gak ada yang merespon, padahal banyak yang read, lalu lambat laut chat mu akan tengelam dengan sendirinya dengan berbagai topik baru.

Apa yang ada dibenakmu saat itu? Apakah kamu akan berpikir, “Begitu tak dianggap kah diriku? atau “Tak pentingkah aku ada di dunia ini?” atau lebih baper lagi, “Apa emang aku hidup di dunia ini di takdirkan terus di gantung tanpa jawaban?” Yah gak bisa dipungkiri sih, chat yang di abaikan pasti pernah dialami tiap pengguna whatsapp. Baik itu pertanyaan berbobot seperti,

“PJ dokumentasi siapa?” Krikkkkkkk

“Tulisan liputan siapa yang buat? Krikkkkk

“Ada yang bisa bantu buat LPJ? Krikkkkk

Sampai pertanyaan paling receh,

“Selamat pagi?” Krikkkkkk

“Selamat siang?” Krikkkkk

“Selamat malam?” Krikkkkkk

“Selamat tinggal?” Kriukkkkk

Dan gak bisa dipungkiri juga, ada orang-orang yang akhirnya menyerah dan memilih mengakhiri hidup grupnya dengan left. Karena tak sanggup terus diabaikan. Dan tahu tidak, penelitian yang dilakukan oleh Nicholas Carson, seorang Psikiater anak dan remaja sekaligus peneliti di Cambridge Health Alliance di Boston mengatakan, bahwa seseorang dapat mengidap depresi dan kecemasan karena SMS atau Chat yang tidak di balas loh. Wah, kan parah tuh kalau sampai masuk RSJ.

Tapi, benar gak sih, left grup adalah cara ampuh agar kamu diangap “ADA” oleh teman teman grup mu sendiri. Yakin gak sih, ketika kamu keluar dari grup orang akan mencarimu dan merasa bersalah karena mengabaikanmu? Nah, berikut ini hasil survey plus pengalaman penulis ketika menjadi saksi dan korban left grup.   Apa sih yang terjadi dengan mantan grup wa yang kamu tinggalkan, check this out :

 

1.Grup Jadi Heboh

(Bunga left grup kumbang)

“Kok si Bunga keluar sih?”

“Nah loh Mawar sih gak respon tadi”

“Kok aku sih, Melati tuh yang read diluan.”

Akhirnya Grup Kumbang menjadi heboh mempertanyakan penyebab si Bunga keluar dari grup. Biasanya kalau kayak gini berbagai hipotesis mulai bermunculan. Dari masalah utama chatnya yang gak di respon sampai nyinggung masalah pribadi, jodoh, rezki, kelahiran dan kematian.  Asas praduga bersalah dan tak bersalah pun mulai tergaungkan antar sesama member. Biasanya setelah grup heboh, akan ada satu orang yang di tugaskan khusus untuk menjapri langsung si korban anggota yang left. Entah itu ketua kelas, ketua angkatan atau dalam hal ini Ketua Kumbang untuk segera mengkonfirmasi penyebab si Bunga keluar grup.

 

2. Nyerbu Japri

Bunga : “Besok deadline nih, pj survey siapa?”

………. (Read : 35)

Bunga : “Laporan progress dong sudah berapa persen persiapana kita?”

…… (Read : 35)

Bunga : “Eh besok sekalian kita take video yah biar kita bisa post, sekalian sebagai laporan kita, ada yang bisa edit?”

….. (Read : 35)

(Bunga left grup)

Percayalah menunggu di dunia nyata dan dunia itu sama aja. Sama-sama gak enak. Menunggu jawaban yang sangat kita butuhkan tapi berasa “gak penting” buat orang lain padahal pertanyaan itu pun berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab bersama anggota grup. Itu tuh sama perihnya kayak nunggu doi yang gak datang-dateng ke rumah padahal udah janji sebelum lebaran temuin Bapak untuk lamaran nikah kerja jadi pendamping ku para petani di sawah.

Nah biasanya nih, kalau kayak gitu, situasi grup jadi auto merasa bersalah dan akhirnya masing-masing pada nyerbu japri buat minta maaf dengan variasi rasa alasan.

Melati: “Bunga map yah, tadi itu aku pengen balas, cuman aku bingun mau bales chat kamu dulu atau komen si kampret dan cebong yang lagi akur”

Mawar: “Buang maaf yah, ku kirain tadi aing udah bales chat kamu di grup eh ternyata aing mimpi”

Kumbang: “Nga, map yak, tadi aku tuh udah baca chat kamu, cuman aku tuh bingung mau bilang yes atau no, kamu tau kan aku masih belum mapan”

Dan akhirnya bunga memilih me-read tiap japri member ex-grup nya dan memilih untuk istirahat dari kelelahannya menunggu sebelum akhirnya mau diundang kembali ke grup.

 

3. “B” aja

Kumbang : Kalian tahu gak kosan kosong dekat si bunga?

(Read : 50)

(Kumbang left grup)

1 minute ago

1 hour ago

1 day ago

1 month ago

1 year ago

Kumbang left grup karena gak ada yang respon. Kumbang pikir, grup akan heboh karena dia keluar. Mereka pastinya akan mereasa bersalah, karena mengabaikan pertanyaan si Kumbang. Kumbang terus menunggu orang-orang akan menjaprinya. Namun ternyata, itu hanya khayalan Kumbang. Jangankan menjapri, keadaan grup “Biasa” saja meskipun Kumbang left. Sib…nasib Kumbang. Niatin pengen “Dicari”, tapi malah tak pernah dianggap menjadi anggota grup. Yang sabar yah Bang. Be positif aja. Kali aja saat kamu left gak ada yang read. Itukan mustahil bisa saja meski sudah cukup lama kamu left.

 

  • Keluar-Masuk-Keluar-Masuk

(Kumbang left grup)

(Bunga mengundang kumbang)

(Kumbang left grup)

(Mawar mengundang kumbang)

(Kumbang left grup)

(Melati mengundang kumbang)

(Kumbang left grup)

Kumbang menghapus whatsapp.

Pernah ada dalam situasi seperti Kumbang? Nah biasanya, model yang tipekelnya seperti Kumbang adalah tipe yang sudah ada pada titik kebaperan tingkat akut. Kombinasi antara kelelahan, tak dianggap, terkucilkan dan akhirnya meledak hingga ia tidak ingin lagi ada di grup. Penyebabnya, karena sudah terlalu lama di abaikan padahal sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk para anggota grup. Namun pada akhirnya, dia memilih melepaskan left dan pindah ke hati yang lain grup baru.

Itulah beberapa situasi yang terjadi saat seseorang memilih untuk meninggalkan grup. Ada yang peduli, namun ada juga yang masa bodoh. Intinya adalah dunia nyata dan dunia jin maya jelas berbeda. Di dunia nyata kita bisa langsung merespon orang lain ketika ada yang bertanya. Kita bisa langsung memberikan ekspresi tanda setuju ataupun tidak. Menunjukkan kita bahagia, sedih, marah atau biasa saja di hadapannya. Namun, di dunia maya tidak seperti itu. Kita bebas menggunakan emot tertawa saat sedang menangis. Menggunakan emot makan saat nyatanya sedang di toilet. Sejujurnya “peduli” namun tak terukir dengan “komen”. “Bertindak” namun “tak bersua” di grup. Ya itulah bedanya dunia maya dan nyata. Dunia maya hanyalah sebuah layar yang dilengkapi fitur-firut canggih, namun tak bisa melukiskan kehidupan kita seutuhnya.

Jadi, jangan pernah baper saat ada di dunia maya dan menjadi pengguna media sosial. Medsos hanya sebagai alat bantu atau alternative kita dalam berkomunikasi secara non-verbal. Gak di balas bukan berarti kamu diabaikan, namun bisa jadi karena para anggota grupnya sedang sibuk menjalani real lifenya.  So, don`t take personal. Dan tetap bijaklah sebagai pengguna dengan saling menghargai dan membantu satu sama lain jika seseorang membutuhkan bantuanmu responmu di dunia nyata ataupun maya.

Tentang Penulis

Suci Fitrah Syari