Aku yang Kau Sebut Penantian

Jauh sebelum hari ini, tuhan sudah merencanakan pertemuan kita disana. Sekiranya kamu juga tahu, maka kesaksian-kesaksian lainnya tak akan menjadi pertanyaan besar sehingga kamu masih meraba-raba antara kenyataan dan mimpi seperti ini.

Kini kamu duduk di depanku, larut dengan pikiran sendiri. Aku tidak tahu mengapa kamu bersikap seperti ini, air wajahmu pancarkan pesan bahwa kamu sedang meragu. Padahal sudah ku jelaskan, bahwa duduk di tempat yang selalu kamu ceritakan beberapa tahun belakangan ini, di tempat yang kamu idamkan dan ingin aku ada disana kelak adalah keputusan berat.

Sepertinya kamu memang masih enggan menerima kenyataan.

Lagi-lagi kita terkurung dalam suasana ini. Setengah jam berlalu masih saling mendiamkan. Sejujurnya aku tidak menyukai masalah yang membuat kita begini:

tak saling sapa, tak saling mendengarkan, tak saling bertatapan.

Bertahun-tahun aku mengenalmu, ini diammu yang fatal. Aku hendak mencari makna dalam sorot mata sendumu itu. Barangkali melaluinya aku bisa mengetahui penyebab kebisuanmu. Namun kamu menolak dipandang dan memandang. Kepalamu terus menunduk, menatap layar ponsel yang sedari tadi ku lihat tak menyala. Begitulah kebiasaanmu ketika menghadapi masalah genting seperti ini.

Aku tahu, aku tahu. Memberi jeda waktu untukmu mendengar pertimbanganku adalah hal yang membahayakan kita berdua. Sampai akhirnya salah seorang teman dekat menyuruhku tak mengulur waktu. Aku setuju dan bukan hanya kamu, semua kerabat sudah mendengar akan hal itu.

Aku tahu persis, kita sama-sama tidak menyangka peristiwa ini terjadi lebih cepat dari perkiraan. Kita dirundung kebingungan yang sama. Sekarang tersisa peranmu untuk membuat keputusan dan memperjelas segalanya lalu menyampaikannya kepadaku hari ini, sesuai janji pertemuan kita.

Hampir setengah jam, kamu masih tak bersuara di salah satu sudut ternyaman perpustakaan ini. Lihat lah, akibat ketidakmampuanmu berpikir jernih saat berhadapan dengan masalah, kamu keliru lagi memilih tempat pertemuan. Karena sesungguhnya kita masih bermusuhan dengan rasa nyaman dan belum bisa berdamai sampai solusi ditemukan.

Aku khawatir setelah hari ini, orangtuamu dan orangtuaku menagih janji. Detik ini aku benar-benar tidak yakin. Aku sudah gemas kepada diriku sendiri sebab tak tahu harus berbuat apa. Lalu kegemasan itu semakin bertambah ketika aku tak mampu menerjemahkan makna yang dipancarkan matamu di waktu yang sangat genting ini. Padahal aku selalu bisa menebak isi hati dan jalan pikiranmu hanya dari tatapan. Ini aneh.

Setelah ku pertimbangkan, jika aku juga diam, maka kita tidak akan mendapat solusi apapun hari ini.

“Jadi bagaimana?” tanyaku disambut keheningan.

Hening

hening..

hening…

Pada akhirnya kita masih terus menggantung. Maka menjadi benar jika dalam puisimu tertulis:

Aku adalah apa yang kau sebut penantian. 


Diterbitkan

dalam

oleh

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *