Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini

Gabut: Antara setumpuk ‘tunda’ dan ‘kosong’

anakuntad.com
Ditulis Oleh Rizki Urip

Letih badan dan pikiran berlama-lama dalam rumah. Sempoyongan perasaan karena jenuh berlebih. Malam semakin nyata, pagi semakin tak kasat mata. Belum lagi dengan setumpuk tugas kuliah yang mesti dikerjakan, seolah berbalik mengerjai.

April, bulan ini terjadi banyak hal. April mop, Ramadhan, dan berlangsungnya Status Darurat Kesehatan. Di bulan yang sama, di waktu lampau, ada meletus gunung tambora, tenggelamnya kapal titanic, serta kelahiran Adolf Hitler.

Beberapa mahasiswa rantau di UNTAD, sudah tiba lebih dahulu di kampung halamannya, sebelum Petunjuk teknis kebijakan pembelajaran semester genap tahun 2019-2020 itu keluar. Surat itu seperti pemberitahuan libur bila dosen  tidak mengadakan kelas online, dan seperti musibah jika dosen hanya memberi tugas. Bertambahlah beban-beban pikiran itu dengan kondisi Kota. Kota kita sesak dengan orang-orang yang mengalami kegabutan serempak, rindu yang menekan batin, serta cemas yang membikin kita mawas diri dan lemas.

Soal Gabut, barangkali, akan jadi menarik jika ada orang-orang yang mencoba untuk riset kecil-kecilan, mencari tahu seberapa banyak mahasiswa UNTAD menggunakan kata “Gabut” selepas dikeluarkannya Petunjuk Teknis Kebijakan Pembelajaran Semester Genap 2019-2020.

Gabut, yang merupakan bahasa gaul, yang pada mulanya akronim dari Gaji Buta, lalu bergeser pengartiannya menjadi tidak ada yang sedang dikerjakan. Atau untuk menggambarkan bagaimana bosan lebih dahulu membasuh raga sebelum segayung air pencuci muka.

Sederhananya, Gabut itu level ketidaknyamanan diatas bosan.

Sebelum Tragedi kesehatan ini, orang yang kerjanya cuma di rumah atau kost-kostan dan berbaring seharian, juga ikut merasakan kegabutan. Keluhannya ada di mana-mana. Mulai dari Jagat Instagram, Jagat WhatsApp, Jagat Tik tok. Baik di sampaikan sendiri, atau yang pakai perwakilan, semisal postingan orang lain yang di upload kembali. Mungkin, Mood adalah santapan paling gurih bagi si Gabut ini. Jadi tidak perlu heran jika kau memiliki teman paling jarang buat postingan, sekarang dia sudah seperti akun media main stream. Itu demi menyibukan dirinya.

Kuliah online masih ada. Untuk mahasiswa yang sedang kuliah di jurusannya karena ikut-ikutan teman, juga yang daftarnya di jurusan A tapi lulusnya di B, ini pasti berat dan sulit. Sesulit melihat mantanmu yang lebih dahulu dapat pasangan baru. Dan seberat pesan whatsApp mu yang cuma centang biru. Untukmu teman, silahkan salahkan corona.

Beberapa orang, mungkin mendapati temannya yang kesulitan menyesuaikan dengan model pembelajaran seperti ini. Entah yang tidak memiliki kuota internet, berada di wilayah sinyal lemot, atau belum memahami cara pakai aplikasi untuk kuliah online.

Untuk bapak dan ibu yang merancang sistem ini, kalian mungkin pernah mendapati ada petisi yang berisi UKT gratis satu semester dan Permintaan kuota gratis, atau semacamnya. Kerja kalian pasti berat. Sekalipun tidak seberat jumlah UKT kami yang di koin kan, saya mengakuinya berat. Berat jika tujuannya menjadikan perkuliahan online itu efektif.

Mari kita taruhan kecil-kecilan. lebih banyak mana, antara mahasiswa yang rindu kuliah dalam kelas dan rindu sekedar ngumpul dengan teman? meskipun ini hanya taruhan kecil-kecil, sensasinya setara El Clasico.

Perihal rindu, adalah perihal tercipta jarak. Entah yang memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri, atau sekedar berpamitan pulang kampung. Kekasihmu yang berasal dari daerah yang berbeda, adalah resiko tersendiri dari jalinan kasihmu. Pulang kampung tidak hanya membikin sepasang kekasih saling merindu, tetapi hal lain juga. Ekonomi misalnya.

Lebih dari 35.000 orang mahasiswa UNTAD saat ini yang berstatus aktif. Katakanlah sepertiga jumlahnya berasal dari luar Kota Palu. Jika kita pakai jumlah 35.000 orang, maka lebih dari 10.000 orang berasal dari luar Kota Palu. Kalau dari kaca mata ekonomi versi simpel, masih dengan asumsi jumlah mahasiswa rantau 10.000 orang, kita coba hitung-hitungan cepat.

Dari jumlah 10.000 itu, kalau setiap orang menghabiskan Rp 200.000 per bulan, Maka setiap bulan ada Rp. 2.000.000.000 sumbangsih  dari mahasiswa untuk perputaran uang. Kita sama-sama tahu, Rp. 200.000 tiap bulan, sekalipun Cuma makan nasi dengan masako, pasti susah bertahan. Apalagi sampai ditambah biaya kos, beli beras, bahan bakar, ganti oli, dll.

Angka diatas untuk hitung-hitungan mahasiswa UNTAD, belum kampus lain. Angka itu memiliki pengaruh terhadap pendapatan pelaku usaha. Secara ekonomi, mahasiswa rantau yang tetap tinggal di kota ini, turut serta memberi sumbangsih terhadap perputaran uang. Meskipun kita juga sudah tau, tidak sederajat rasanya jika membandingkannya dengan keselamatan.

Untuk kalian mahasiswa rantau yang memilih tetap tinggal, sekalipun kalian tahu bahwa rasa khawatirnya orang tua teramat susah dijinakan, Terima kasih.

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Tentang Penulis

Rizki Urip