Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerpen Uncategorized

Ainun : Sebuah Cerita Pendek

Ditulis Oleh Satria

Pagi baru saja tiba lewat jendela kamarmu. Meski sudah berkali-kali melalui pagi, nampaknya kali ini kau masygul dengan dirimu sendiri. Segala rupa kau pikirkan dalam kepala – yang kata teman dekatmu isinya kosong. Memang pada dasarnya pikiranmu dangkal-dangkal saja.

Sepertinya, memang kau telah kehilangan dirimu sendiri. Entah karena sudah seringkali seseorang melarikan diri lewat jendela kamarmu, usai mencuri isi kepalamu di malam hari, atau karena kau memang sepenuhnya adalah produk konstruksi sosial. Tidak lebih, apalagi kurang.

Usiamu, kini terbilang dua puluh tiga tahun. Pikirmu, itu tidak lagi muda. Kau lahir pada gerhana bulan merah yang waktu itu sedang sempurna di atas kotamu – berikut beberapa mitologi yang membuntuti kisah hidupmu.

Walakin entah karena apa, pagi ini beberapa dari kisah sepuh itu menghampiri ingatanmu. Ada bagian dari otakmu yang terbawa-bawa pada kisah kemenangan Sultan Mehmed II (Al-Fatih) atas Konstantinopel, yang kau percayai memang bertalian secara kausal dengan gerhana bulan merah pada waktu itu.

Kau lalu beranjak, mengenakan kasut yang kau ambil dari pinggir pembaringan. Sayang, itu sedikit kotor oleh abu rokok Marlboro merah. Di hadapan cermin (yang kadang kau curigai ada mahkluk gaibnya) kau berpandang-pandangan dengan bayanganmu sendiri. Rambut hitam itu kau urai sampai menjuntai ke bawah.

Meski wajah itu sedikit pucat dari biasanya, namun lesung pipi beserta segala bintik merah eksotis itu masih ada di sana. Di wajahmu sendiri, yang estetik atau tidaknya tergantung kontruksi sosial dalam kepalamu. Tidak kebanyakan, tidak juga kurang, kau rasa cukup.

Hasil olahan lilin warna merah muda di bibirmu semalam sudah enyah; entah hilang bersama bunga tidurmu; entah dibawa lelaki semalam yang pergi lewat jendela kamarmu; atau hilang oleh campur tangan mitologi dalam kepalamu.

Lagi-lagi kau memang bebal menyisakan ruang kepercayaan yang berharga dalam dirimu untuk hal-hal seperti itu – pelbagai hal yang biasanya menyisakan pertanyaan-pertanyaan terlarang.

Sedang bibirmu masih tetap sama, tipis, bentukannya tidak berubah, dan terlihat sedikit basah. Kalau dipikir-pikir bentuknya nyaris paripurna dalam konstruksi sosial yang kejam. Meski sariawan kau rasai begitu mengganggu dibaliknya.

Sedikit lama kau duduk memandangi wajahmu sendiri. Habis dijatuhkan pada bahu kiri, lalu kepalamu kau jatuhkan lagi di bahu kanan. Begitu saja, sembari tubuhmu tetap mematung melihat-lihat wajah itu. Sedikit-sedikit pikiranmu lebih santai, jika yang terlintas adalah suasana pantai. Walakin kembali menjadi rusuh ketika datang peristiwa tertentu.

Sayang, peristiwa yang membikin pikiranmu rusuh itu lebih lama waktunya mengaduk emosimu, lalu berganti lagi entah kapan.

Kau rasai kakimu mulai berjalan sesuai kehendak pikiranmu. Tentu saja, kau ingin mencari segala yang menenangkan pikiran dan perasaan. Sebentar-sebentar tubuhmu kini berada di depan pintu. Kau putar kenop pintu berwarna emas sembari menariknya kedalam kamarmu. Sapuan angin yang entah membawa setan jenis apa ikut masuk ke dalam kamarmu.

Ruang yang lebih luas kini pasrah di depan matamu. Matamu meraba-raba apa saja di ruangan itu. Tapi, pagi tiba-tiba menjadi basah di matamu, tepat ketika pandanganmu mengarah pada kursi sofa warna coklat, meja kayu antik yang dipernis dan satu vas bunya dengan setangkai mawar merah layu bersandar di bibirnya.

Air dari ekor matamu lalu jatuh di lantai.

Kau coba kemasi suasana itu dengan berjalan gontai menuju sisi ruangan yang lain. Tidak terasa, satu kenop pintu lagi tepat di hadapanmu. Kau buka. Kali ini sedikit lebih santai. Lanskap di hadapanmu kini jauh lebih luas dari ruang tengah yang tadi. Matamu kini lebih rutin mengerjap karena angin dari selatan kau rasai lebih nakal dari biasanya.

Kemudian pandanganmu menemukan tiga kursi kayu penjaga setia beranda, dan tentu saja, satu meja kayu yang sama seperti di ruang sebelumnya. Kali ini tidak ada vas bunga dengan mawar merah layu di sana. Pikiranmu ingin meminang tubuhmu untuk menjatuhkan tubuh di sana. Tapi ada bagian dirimu yang lain menolaknya mentah-mentah.

Pipimu kini kembali dialiri sungai kecil yang hulunya barangkali dari ekor matamu, kalau tidak, secara radiks dari dalam memori yang kembali terbaca oleh ingatan.

Kali ini kau benar-benar gagal menemukan ketenangan, atau barangkali juga makna hidup dalam pandangan orang-orang antroposintrisme. Cita-cita hidupmu kini kembali berganti dengan lancang – serta dengan yakin kau tanam dalam dada.

Dulu kau ingin menjadi seorang dokter, pernah juga ingin menjadi guru yang teladan, lalu berganti menjadi apa saja. Asal hidupmu aman-aman saja. Walakin  kemudian, cita-citamu kali ini beralih menjadi seorang yang bisa mengakhiri usia muda – yang barangkali begitu mudah untuk kau capai. Asal rela menjadi terasing dari pelukan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sayang sekali, semuanya tidak pernah kau pelajari secara atomis.

Satu persatu milikmu hari ini sudah kau tengok kembali. Sebelum akhirnya kau bergerak cepat ke ruang paling belakang rumahmu. Tentu saja untuk mengakhiri hidup yang  terbilang masih dini.

Lalu, darah yang mengalir melalui urat nadimu itu bagaikan jam pasir berukuran sedang. Cepat atau lambat pasti akan habis waktunya. Sembari menunggu kematian, tiba-tiba saja orbituari yang lama kembali terbaca dengan santun di ingatanmu. Barangkali yang tersisa dan belum lagi kau jumpai hari ini hanyalah pusara kedua orang tuamu.

Capaianmu itu memang mendulang impresi dari jagat maya esok hari. Media dan berita menyukai tingkahmu. Mereka turut ber…cita dengan judul-judul terbaiknya.

Hari itu juga, orang-orang puritan sampai flamboyan membaca obituarium tentangmu. Ada yang dengan gumam-gumam melibatkan nama tuhannya dan ada yang mencurigaimu akan bergentayangan di malam hari. Tapi, ada juga yang memandangmu payah, tentu saja yang ini lebih ramai jumlahnya.

Sedang para kameradmu memang tidak tahu, separah itu kau menanggung duka. Kau tidak hanya mengakhiri hidupmu, tapi juga kehidupan yang mulai tumbuh dalam rahimmu.

anakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

 

Tentang Penulis

Satria