Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini

Kuliah adalah Kemewahan

Ditulis Oleh Ashari Ramadhan

Sebuah kutipan yang entah kenapa begitu berkesan di kepalaku,

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda ~Tan Malaka

Kemewahan dalam artian sesuatu yang berharga dan hanya bisa dimiliki oleh kelompok tertentu yaitu pemuda. Bukan orang tua yang duduk di kursi-kursi jabatan!

Kuliah juga adalah kemewahan yang hanya dimiliki Mahasiswa. Hanya 1 dari 5 penduduk Indonesia yang bisa mengeyam pendidikan tinggi, atau dengan kata lain 4 dari 5 penduduk Indonesia tidak memiliki kesempatan berkuliah (www.merdeka.com). Seperti idealisme, kuliah juga termasuk kemewahan yang dianggap biasa-biasa saja.

Dulu sekali, saat rambut botak (untuk memulai kehidupan kampus Mahasiswa Baru harus botak!) di tahun 2016.

Pada saat awal kuliah kalkulus si dosen berkata “Bersyukur bisa dapat D, banyak yang dapat E mau dapat D. Bersyukur juga kalo dapat E, banyak yang mau dapat E tapi tidak bisa kuliah”. Dari kata  ini cukup ampuh membuat semua Mahasiswa dalam kelas itu tidak protes ketika 18 mahasiswa dapat D dan 20 mahasiswa dapat E, haha. Entah karena betul-betul bersyukur, tapi nyatanya memang benar, banyak yang mau dapat E, tapi tidak bisa kuliah. Tunggu, seberapa banyak kah?

Menurut data Badan Pusat Statistik, angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia pada tahun 2019 sebesar 30.28%, untuknya apk perguruan tinggi Sulawesi Tengah berada diangka yang lebih tinggi, yaitu 38.64%. Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi adalah perbandingan antara jumlah mahasiswa dengan jumlah penduduk usia 19-24 tahun. Jadi bisa kita katakan, di Sulawesi Tengah penduduk usia 19-24 tahun yang lanjut ke Pendidikan Tinggi sekitar 38.64%. Coba bayangkan sebuah sekolah yang terdiri dari 100 siswa, 38 siswa mampu lanjut ke Pendidikan Tinggi, sisanya 62 siswa mungkin bekerja, menikah atau menganggur.

Tentunya ada berbagai alasan mengapa APK Pendidikan Tinggi Indonesia belum signifikan (kalau tidak mau dibilang: rendah), satu akses Perguruan Tinggi. Sebaran Perguruan Tinggi yang tidak merata dan berpusat di perkotaan membuat aksesnya menjadi barang mewah, terutama untuk teman-teman di pedesaan. Alasan kedua adalah biaya, implikasi dari sebaran Perguruan Tinggi yang tidak merata, mengharuskan calon mahasiswa untuk merantau. Selain harus membayar UKT, terdapat pengeluaran tambahan seperti biaya hidup, kos dan sebagainya. Tentunya masih ada alasan lain kenapa APK Pendidikan Tinggi Indonesia masih rendah.

Kendati kuliah adalah kemewahan, toh masih banyak dari kita yang kurang bersyukur bisa berkuliah. Apa yang saya liat, masih banyak dari kita yang menganggap kuliah sebagai sesuatu yang harusnya bisa semua orang dapatkan. Menganggap kuliah hanya masuk kelas, dapat nilai lalu ilmu tidak membekas di kepala. Masih ada saja dari kita menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan, bermain game, ngedrakor, kongko-kongko di saat orang tua dirumah berharap kita sedang asyik-asyiknya menuntut ilmu. Hm, apa ada yang mengganggap belajar dikampus itu sesuatu yang asyik?

Dulu sekali, saya merasa minder ketika teman-teman sekolah bisa berkuliah di Universitas ataupun jurusan-jurusan terbaik. Jangankan universitas terbaik, bisa kuliah saja sudah menjadi kemewahan. Sempat minder ketika teman-teman kuliah bisa dapat nilai A. Jangankan dapat nilai A, banyak yang bahkan tidak bisa dapat E, mereka kekurangan lembar rupiah, kekurangan restu, kekurangan waktu.

Suatu saat ketika kamu merasa capek, malas dan ingin segera menikah. Ingatlah,
“Kuliah adalah kemewahan yang hanya dimiliki mahasiswa”

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Tentang Penulis

Ashari Ramadhan

Dia mengharapkan mu bersusah payah membaca apa yang ditulisnya dengan susah payah pula.
Multatuli