Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Lebih dari 90% bencana yang terjadi sejak 2011 adalah bencana yang berkaitan dengan cuaca dan iklim. Perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca akibat emisi gas rumah kaca menyebabkan perubahan iklim. Perubahan iklim ini membawa dampak yang signifikan di berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, kesehatan, infrastruktur, sosial dan budaya. Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) BNPB mencatat terdapat 291.788 rumah terendam dan 135.848 orang mengungsi akibat bencana di tahun 2017. Negara diprediksikan akan merugi sebanyak 132 trilliun rupiah di tahun 2050 akibat dampak perubahan iklim di sektor agrikultur, kesehatan, dan peningkatan muka air laut berdasarkan USAID Technical Report 2016.

Salah satu contoh bencana yang berkaitan dengan cuaca dan iklim adalah banjir. Tahun ini, seperti tidak bertambah baik bagi Indonesia, telah terjadi 1911 bencana yang 645 di antaranya adalah bencana banjir. Banjir telah menjadi bencana paling sering terjadi di negeri, baik di kota besar seperti Jakarta maupun di pedesaan seperti Purworejo. Banjir bagai makanan sehari-hari di bulan-bulan basah, tidak hanya menghambat aktivitas tapi juga menyerang kesehatan dan menurunkan kualitas ekonomi. Sekarang, tidak hanya warga pinggiran sungai yang menjadi korban terparah. Komunitas yang tinggal di kota yang kekurangan lahan resapan air pun menjadi sasaran banjir. Baru-baru ini, kerugian yang diakibatkan bencana banjir Pacitan sendiri mencapai angka 580 milyar rupiah.

Baca Juga : YLCCC UNESCO 2017, Pemuda Kota Palu Raih Penghargaan di Bidang Perubahan Iklim

Telah banyak fakta dan proyeksi kerugian yang akan di alami bangsa jika perubahan iklim dibiarkan memberi dampak terus-menerus. Tidak elok jika kita mengabaikan angka yang besar itu dan tidak melakukan tindakan yang dimulai dari sendiri.

null

Banjir di Pacitan. ©2017 Merdeka.com/Mochammad Andriansyah

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kerugian itu?

Mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim adalah jawabannya. Pemerintah, perusahaan swasta bersama masyarakat umum perlu memberi perhatian kepada program yang bertujuan untuk membantu masyarakat di daerah yang rentan secara ekologis yang beradaptasi terhadap perubahan iklim. Hal yang sama juga dibutuhkan untuk mempersiapkan rencana untuk mengurangi bencana yang mungkin dihadapi.

Masyarakat perlu tahu bahwa pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi 29% emisi gas rumah kaca tanpa syarat dengan skenario bisnis seperti biasa pada tahun 2030. Di sektor energi, Indonesia telah menerapkan kebijakan penggunaan energi campuran, yaitu campuran pasokan energi utama dengan saham sebagai berikut:

  1. energi baru dan terbarukan paling sedikit 23% pada tahun 2025 dan paling sedikit 31% pada tahun 2050;
  2. minyak harus kurang dari 25% pada tahun 2025 dan kurang dari 20% pada tahun 2050;
  3. batubara minimal 30% pada tahun 2025 dan minimum 25% pada tahun 2050; dan
  4. gas harus minimal 22% pada 2025 dan minimum 24% pada tahun 2050.

Komitmen ini harus dicapai bersama seluruh lapisan masyarakat. Memantau kinerja dan pelaksanaan aturan pemerintah serta mendukung aktivitas ramah lingkungan adalah kewajiban kita sebagai bangsa Indonesia agar tujuan tercapai. Masyarakat dapat berkontribusi dalam perubahan perilaku – seperti menghemat lebih banyak uang dan makanan; memiliki kesadaran yang lebih besar akan ancaman iklim; dan mendorong pemerintah daerah untuk mengambil tindakan pengurangan risiko bencana.

Hal-hal kecil yang dapat kita sebagai individu lakukan adalah dengan memulai gaya hidup ramah lingkungan: Menghemat listrik dan air, menghentikan penggunaan plastik sekali pakai, mengkampanyekan penggunaan tas berulang pakai, menggunakan transportasi umum, dan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran dari petani lokal.

Kerugian dan kerusakan di masa depan berpotensi muncul dalam jumlah yang tak terbayangkan. Perkiraan 132 trilliun rupiah baru menunjukkan angka ekonomi, kerugian non-ekonomi juga sedang dan akan dirasakan. Terutama karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di planet ini dan bergantung pada sumberdaya alam. Perubahan iklim tidak hanya menurunkan produktivitas pertanian, tapi juga dapat menghilangkan mata pencaharian itu sama sekali ketika lingkungan sudah tidak dapat berproduksi.

Memang sulit untuk memulai perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan, tapi jika kita tidak melakukannya dari sekarang, kerugian akan semakin besar di masa yang akan datang.

 

Tentang Penulis

Sukma Impian Riverningtyas

Climate Change Enthusiast