Hei.. Saya ingin bertanya. Pernahkah anda gagal terpilih menjadi pemimpin organisas? Jika jawabannya iya, maka marilah berteman, anda adalah teman saya, teman temannya saya, dan sahabat orang-orang seperti kita. Bedanya, ada yang merasa bahagia karena tidak terpilih, ada yang merasa malu dan syok, bahkan ada yang mencoba menyembunyikan dirinya dari dunia yang menyebalkan ini. Melalui tulisan ini saya mengajak kepada teman dan sahabatku untuk menjadi golongan yang merasa “biasa-biasa saja”. Alasannya sederhana, coba direnungkan ini.

  1. Semua berakhir dengan indah.

Ketika teman-teman merasa hasil akhir pemilihan buruk, tidak menyenangkan, dan tidak berakhir indah maka percayalah “hal tersebut belumlah berakhir”. Sebagai manusia yang percaya kepada Tuhan, sudah pasti kita akan sepakat bahwasanya Dia-lah penulis skenario terbaik bagi pemerannya. Merasa biasa sajalah ketika belum diberi kesempatan mengambil peran sebagai pemimpin organisasi, sebab semua pasti berakhir dengan indah.

Cukup bersabar, habiskan seluruh jatah gagalmu di masa muda, agar di hari tua hanya tersisa kesuksesan.

  1. Pada awal dan akhirnya dirimu adalah pemimpin.

Coba bercermin, saya pastikan yang kau lihat di cermin tersebut adalah Manusia. Yah, ketika teman-teman bercermin dan tampak manusia hidup dalam cermin, yakinlah pada dasarnya anda diciptakan untuk memimpin. Bukankah sudah sangat jelas bahwasanya Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Pimpinlah bumi ini lebih dulu dengan baik, menjaga lingkungan, menyebar kebaikan, memberi makan kucing dan lain-lain. Jika kita gagal hari ini, berarti kita dipersiapkan untuk memainkan peran kepemimpinan di masa mendatang yang jauh lebih sulit. Seperti kata Tan Malaka “Terbentur, terbentur, terbentuk”.

  1. Pemimpin terhebat abad ini.

Siapa pemimpin terhebat masa kini? Presiden? Gubernur? Bupati? Rektor? Dekan? Atau Pemimpin Keluarga kita *eh. Ada sebuah kata-kata dari seorang bijak (maaf, penulis lupa namanya), kira-kira dia berkata seperti ini “Lebih baik mampu memimpin diri sendiri, dibanding memimpin 1000 orang”. Sehingga pemimpin terhebat masa kini jatuh kepada orang-orang yang mampu memimpin diri sendiri. Begitu banyak hari ini pemimpin kita yang melakukan penyelewengan kekuasaan akibat tidak mampu memimpin diri sendiri. Begitu banyak hari ini pemimpin kita menyerukan kebaikan, malah kita dapati mereka bermain di tempat nakal. Betapa lugu dan naifnya kita, ampuni dosa kami Ya Tuhan. Pimpin diri sendiri dengan baik sebelum memimpin pasangan, maaf maksudnya orang lain.

  1. Kembali seperti dulu.

Berapa mahar yang harus dikeluarkan untuk menjadi Presiden atau Gubernur? 100juta? 200juta? Atau 2M? Silahkan di tebak sendiri teman-teman. Intinya, sangat banyak oknum hari ini yang rela mengeluarkan ongkos berjuta-juta agar dapat terpilih menjadi pemimpin daerah/nasional. Tak jarang juga ada yang rela mengorbankan persahabatan demi mendapat sebuah jabatan. Ironis yah teman-teman, padahal di zaman dulu saat Umar bin Khattab dibaiat menjadi Khalifah beliau menangis, menurutnya jabatan yang diamanahkan kepadanya sangatlah berat untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Namun faktanya, beliau mampu membawa kemajuan yang pesat bagi rakyatnya. Begitulah perbedaan pemimpin sekarang yang haus akan jabatan dan pemimpin dulu yang takut (hingga menangis) menanggung beban jabatan. Mau ikut seperti sekarang, atau kembali seperti yang dulu? Pilihlah sendiri.

Bagi mereka yang sadar, jabatan dan kekuasaan merupakan amanah yang sangat berat untuk ditanggung oleh pundak yang kekar sekalipun. Di kemudian hari kita akan mempertanggung jawabkan semua kepemimpinan kita di hadapan Allah SWT. Maka apabila kita belum diberi kesempatan memegang jabatan dan kekuasaan, percayalah itu adalah tanda sayang Allah kepada kita, mengurangi beban dan tugas kita sebagai Khalifah di muka bumi.

“Berbahagialah orang yang dibebaskan padanya tanggung jawab, berbahagialah orang-orang yang merasa biasa-biasa saja”.

Baca juga :

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

 

Tentang Penulis

Ashari Ramadhan

Dia mengharapkan mu bersusah payah membaca apa yang ditulisnya dengan susah payah pula.
Multatuli