Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini

PRESMA-MM Untad 4G (Gagap Gugup Grasah Grusuh)

PRESMA
Ditulis Oleh aliefVeraldhi

PRESMA-MM Untad 4G (Gagap Gugup Grasah Grusuh)

Jumat (16/8), telah dilaksanakan pembukaan PKKMB Universitas Tadulako. Tepat pada momentum pengenalan kelembagaan Universitas Tadulako, riuh tepuk tangan mahasiswa baru menusuk gendang telinga ketika kakak pembawa acara memanggil dengan gagah seorang figure manifestasi mahasiswa Untad.

Ya. Orang yang dipanggil adalah Presiden Mahasiswa “Presma” Untad periode ini. Tentu saja, sepatah dua kata motivasinya ditunggu calon mahasiswa, gagasan tentang kemahasiswaan diharapkan membakar semangat sehingga mampu menumbuhkan kekuatan tersendiri untuk mahasiswa baru, dalam mencari esensi dengan menjadi mahasiswa yang berkarir di kelembagaan, khususnya eksekutif yang maskulin tersebut.

Sambutannya ia mulai, kurang lebih seperti ini bunyinya.

“Halo hai, hai halo”

Kemudian sedikit sambutan yang ia sampaikan terkait bagaimana fungsi BEMUT. Kata beliau “BEMUT adalah wadah aspirasi bagi mahasiswa Untad yang punya keluhan mengenai kuliah akademik dan sebagainya. Kita akan sama-sama selesaikan tapi kita tidak menjamin bisa menyelesaikan masalah teman-teman” ujarnya.

Sesingkat itu saja, kemudian beliau menutup sambutannya.

Wajar saja, jika ingin terlihat gagah dalam memberikan orasinya. Tapi yang terdengar malah seperti orang gagap gugup grasah grusuh tidak tau ingin bicara apa. Dalam sambutan yang disampaikan, kalimatnya tidak terkonsep dengan baik. Banyak pengulangan bahasa-bahasa yang tidak jelas pada bagian yang juga kurang penting dan saling dorong mendorong, juga tolak menolak ketika ingin menyampaikan harapanya. Sambutan yang akan diberikan oleh mahasiswa nomor satu di Untad, yang harusnya memiliki substansi yang jelas, padat dan berisi serta membangun, bagi adik-adik mahasiswa baru malah terlihat seperti bahan candaan.

Tidak memperlihatkan kualitas seorang presiden mahasiswa yang berintelektual sebagai mana mestinya.

Sehingga riuh tepuk tangan itu seketika berubah menjadi bahan tertawaan mahasiswa baru karena sambutan yang terlihat konyol seperti orang yang tak pernah berorganisasi. Untung saja ada panitia yang paham sdikit terkait apa itu PRESMA dan MM yang membantu menjelaskannya kepada adik-adik mahasiswa baru secara bergantian dengan panitia yang lain. Hal ini tentu saja menimbulkan opini dari adik-adik mahasiswa baru, “Kalau Presiden Mahasiswa dan Majelis Mahasiswanya seperti itu bagaimana mau menyuarakan perjuangan dan perlawanan!”.

Sepatah Kata Buat PRESMA-MM Untad

Yang terhormat Presiden Mahasiswa dan Majelis Mahasiswa Universitas Tadulako.
Salam perjuangan, Hidup mahasiswa!

Salam hangat, semoga kedamaian hati dan gejolak nafas perjuangan tidak luntur dijiwa kita semua. Semoga kalian bukanlah orang-orang yang takut untuk dikritik. Jika ternyata kebalikanya dan saya salah menilai, maka dengan hormat izinkan saya yang menyimpan idealis kalian sedalam-dalamnya di bawah tanah!

Sebagai seorang pemimpin maka wajib kalian untuk di kritik dan saya yakin setelah ini akan banyak anggapan yang terlontar kepada saya, “Tidak tau sopan santun, memutuskan tali persaudaraan, dan menimbulkan kerisauan dalam hati sehingga banyak orang yang muak dan benci kepada saya”.

Tapi saya yakin, dari puluhan ribu mahasiswa yang mereka pimpin hari ini masih ada 1 orang yang murni berada digaris perjuangan, maka yakinkan dan pastikanlah bahwa kalianlah orangnya!

Individu pembaharu akan merasa risau jika hari-harinya tidak melakukan hal yang bermanfaat dan lebih risau lagi ketika tak ada yang peduli dengan menunjukkan sebuah kritik. Yah, bagi saya memang kritik adalah gaya kemesraan seorang insan. Tak ada kritik, tak ada romantisme, tak ada kepedulian!

Kita semua sadar betul bagaimana situasi dan kondisi Universitas Tadulako. Kampus kita hari ini, rasa-rasanya berada di kutub utara dan selatan. Saling bertolak belakang. Dingin, sunyi, “membeku” adalah kata yang pas agar dapat ditafsirkan secara universal.

Jika Tuhan meridhoi, maka saya akan menjadi aktivis yang paling aktivis. Barangkali sedikit membusungkan dada, menghentakkan kaki, menggulung lengan kemeja putih andalan, kemudian berlari kebarisan paling depan. Megaphone harus saya junjung tinggi di atas kepala.

Saya bukan pemuda yang keluar dari gang-gang tikus, busuk dan tak bernyali, yang lari diantara tuan-tuan sambil menundukkan kepala namun dibelakang sebagai penjilat atas nama kekuasaan.

Terima kasih, mungkin itu sedikit saja pengantar dari saya. Selanjutnya saya akan sampaikan kritikan saya kepada PRESIDEN MAHASISWA dan MAJELIS MAHASISWA terkait realita yang terjadi selama pelaksanaan PKKMB Universitas Tadulako, saya sampaikan julukan baru untuk kalian para pemimpin saya.

3 hari berlalu, PKKMB Universitas telah terlaksana dengan baik. Namun ada hal yang menarik terkait pengenalan kelembagaan universitas oleh PRESIDEN MAHASISWA dan MAJELIS MAHASISWA  UNTAD. Di hadapan mahasiswa baru, Presma dan Majelis Mahasiswa itu ingin terlihat gagah dalam memberikan orasinya, tapi yang terdengar malah seperti orang gagap gugup grasah grusuh tidak tau ingin bicara apa, kalimatnya diulang-ulang pada bagian yang kurang penting dan saling dorong mendorong tolak menolak dalam menyampaikan sesuatu yang tidak memliki substansi yang jelas dan membangun bagi adik-adik mahasiswa baru.

Baca Juga :

Kita ketahui bersama bahwa indonesia dilahirkan oleh perjuangan mahasiswa yang belajar di negeri Belanda. Pada masa itu (sekitar tahun 1940-an), mahasiswa memiliki peranan yang sangat besar dalam perjuangan melawan penjajah. Dari pidato-pidato Bung Karno yang membangkitkan motivasi sampai pendebat-pendebat penjajah di negeri asing seperti Perhimpunan Indonesia milik Bung Hatta, semuanya melibatkan mahasiswa.

Mahasiswa pada saat itu memiliki peranan penting dalam sejarah bangsa kita. Hal ini yang menyebabkan perkembangan negara Indonesia dari dulu hingga sekarang diidentikkan dengan perkembangan gerakan mahasiswanya.

Tetapi zaman telah berubah.

Faktanya sekarang? Bahkan mahasiswa baru memicingkan mata ketika diajak berorganisasi. Wajar saja, wajah organisasi Mahasiswa saat ini pun patut dipertanyakan. Budaya baca, diskusi dan aksi sudah mulai ditinggalkan, gambaran itu terlihat jelas pada kualitas PRESIDEN MAHASISWA dan MAJELIS MAHASISWA UNTAD hari ini.

Selamat membuka mata atas realitas nyata kekacauan sistem demokrasi di UNTAD hari ini dan masih banyak lagi kekacauan-kekacauan lainnya. Itu bukan salah Presma dan Majelis Mahasiswa, sebab memang mereka tak pernah berbuat apa-apa. Tapi ini adalah kesalahan kolektif kita semua, yang tak pernah bersatu berjuang untuk mendapatkan kemenangan. Kita terlalu terlena dan bersenang-senang, tanpa sadar dan memikirkan hakikat kita sebagai seorang mahasiswa.

Sebagai penutup dari saya mahasiswa biasa-biasa saja ini, untukmu PRESIDEN MAHASISWA dan MAJELIS MAHASISWA UNIVERSITAS TADULAKO, mencairlah dari bekumu. Jangan terlalu lama membeku dalam kulkas, sebab jilat menjilat yang membeku akan membuat lidahmu memerah.

Terakhir saya ingin mengucapkan selamat datang mahasiswa baru di dunia kampus Bumi Tadulako Palu. Jadilah mahasiswa yang turun tangan dan ambil bagian dalam perubahan. Jangan antipati terhadap situasi negeri, mulailah dengan membangun demokrasi berkeadilan di Kampus tercinta. Selamat menyandang gelar “Mahasiswa”, rakyat menggantungkan masa depannya di tanganmu.

HIDUP MAHASISWA!

 

 

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

 

 

Tentang Penulis

aliefVeraldhi