Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerpen Opini

First Experience to Be A Positive Fighter

Ditulis Oleh Soraya putri yakub

Banyak sekali pengalaman menarik selama mengikuti pelatihan AnakUntad Youth Leader (AYL) 2019.

Sejak dikarantina, menerima rangkaian materi Be The Best Version of You, bermain games dan lain-lain.

Pelatihan AYL 2019 adalah pelatihan lintas fakultas yang diikuti anak muda dari berbagai daerah se-Universitas Tadulako.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kegiatan postive fighter, ini pertama kalinya dalam hidup saya. Dalam kegiatan ini peserta ditantang untuk mencari anggaran dana dengan 2 syarat, yaitu tidak boleh meminta-minta dan tidak boleh menggunakan uang sendiri.

Jangka waktu yang diberikan kepada kami hanya selama 3 jam, saya sedikit shock tapi sangat excited. Nah sebelumnya kami sudah membentuk kelompok masing-masing, kelompok ini kami beri nama kelompok “aman”. Yaaa karena orang-orang didalamnya ini santai, jadi aman-aman saja wkwkwk.

Kami membagi part masing-masing untuk turun ke jalan, kemana saja untuk bisa mendapat dana. Yupss, yang penting halal pastinya dan memenuhi kedua syarat tadi. Setelah terbagi, saya bersama kawan lama saya bernama Agung Setiawan biasa dipanggil Awan. Kita mulai buat rencana untuk mencari dana.

Next, rencana awal kita akan turun ke pasar. Namun, ada beberapa hal yang menurut kami pasar tidak bisa dijadikan sebagai pilihan. Karena, di pasar kebanyakan hanya penjual-penjual perseorangan yang tak mungkin bisa mempekerjakan kami. Mungkin ada beberapa toko di pasar yang peluang kerjanya besar tapi kami tetap memilih lanjut ke opsi lain.

Opsi itu, kami akan pergi ke warung makan yang kebetulan pelayan disana adalah teman Awan. Yah kami yakin kemungkinan besar kami diterima.

Menempuh perjalanan yang cukup jauh, melewati lorong-lorong yang begitu sempit dan jembatan gantung yang di bawahnya air yang mengalir sangat deras juga pertama kali saya lewati. Suara-suara kayu jembatan gantung itu terngiang-ngiang di telingaku. Yah sedikit deg-degan. Setelah itu, sampailah kami diwarung makan yang bernama “Mie Petir”.

Kami mencoba menjelaskan pada pemilik warung tentang maksud kedatangan kami. Ternyata feeling kami benar pemilik warung langsung merespon dengan baik dan mempersilahkan kami bekerja.

Teman saya Awan langsung mengikat rambut gondrongnya, menarik lengan bajunya dan langsung ambil bagian untuk cuci piring. Sedangkan saya langsung dipersilahkan untuk membungkus kerupuk. Sementara membungkus, saya mengobrol dengan ibu yang ada disana.

Banyak hal yang kami ceritakan. Mulai dari cerita tentang awal berdirinya warung itu, tentang kuliah saya dan sampai disuku yang ternyata kami satu suku yaitu Jawa. Sayangnya saya tidak tau bahasa Jawa, jadi kami tetap saja mengobrol pakai bahasa Indonesia.

Sambil saya bercerita bersama ibu yang ada disana, kami dibuatkan minuman es jeruk yang benar-benar sangat menyegarkan dengan hawa panas dari kompor gas besar yang berada didapur itu disertai dengan  irisan-irisan bawang yang rasanya membuat mata saya perih.

Saya bertanya pada ibu itu apakah merasakan hawa yang begitu panas dan mata perih seperti saya. Namun ibu itu menjawab sambil tertawa “iya nak tapi ibu sudah terbiasa”. Mendengar itu, saya hanya bisa tersenyum dan merasa harus lebih banyak bersyukur lagi.

Wah tidak terasa waktunya kami pulang, karena 3 jam sudah berlalu. Tapi sebelum itu, kami disuguhkan mie petir oleh pemilik warung. Rasanya sangat nikmat dan ditambah lagi gratis hehe. Setelah kami makan, pemilik warung langsung memberi kami upah tentunya dengan seikhlas hati.

Jadi, hal yang bisa saya dapatkan dari kegiatan positive fighter ini saya bisa memaknai diri saya sendiri, belajar untuk lebih mandiri, ikhlas, harus banyak bersyukur apapun yang kita punya dan sesuatu yang ingin kita capai harus butuh pengorbanan tentu disertai dengan doa.

Baca juga : Komunitas anakUntad Sukseskan Kegiatan AYL 2019

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Tentang Penulis

Soraya putri yakub