Koran Pagi

Koran Pagi

Seperti biasa, sudah selarut ini Bahar masih saja menulis berita. Apapun itu, asal bisa dijadikan berita akan ia tulis juga. Upah dari menulis berita memang tak seberapa. Untuk beli makan saja kurang, apalagi belanja barang yang diinginkan.

Kopi, mesin tik dan sebungkus rokok kretek menjadi perangkat paling penting jika ia ingin menulis berita. Sudah banyak lika-liku yang ia lalui sebagai seorang penulis berita. Kadang honor belum cair, tapi tuntutan menulis berita baru juga harus dikerjakan.

Sangat sulit bila dibayangkan berada dalam kondisi kurang tidur dan lapar namun tetap harus menulis berita. Kebiasaan itu sudah sering menerpa Bahar, sejak memutuskan untuk menjadi penulis berita.

Berita yang akan ia tulis malam ini rasanya begitu berat. Karena harus ia tuliskan dengan jujur, beda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Sedikit fakta, sisanya dibumbui kata-kata mutiara, agar tidak mencederai para pemangku tahta.

Ekonomi adalah topik yang akan ia tulis. Dari macam-macam jenis berita, Bahar memilih feature. Menurutnya berita jenis ini tetap bisa dibaca berulang kali tanpa adanya kata kadaluarsa.

Semua perangkat guna menulis malam ini telah siap. Kopi, mesin tik, rokok kretek dan ide. tinggal menunggu komando Bahar. Ide untuk beritanya kali ini pula tidak main-main, telah matang dan bulat. Apapun hasilnya nanti, ia telah siap menerima.

Terlebih lagi ketika siang tadi ia bertemu Pak Syukur, bapak dua anak yang menghidupi keluarganya dengan memulung. Siang itu Bahar berencana ingin mencari bahan untuk menulis berita tentang ekonomi masyarakat ditengah anjloknya perekonomian. Lama Bahar pikir, ide apa yang ia akan angkat dalam beritanya nanti.

Macam-macam bacaan yang ia habiskan, semuanya topik ekonomi. Bahar memilih dan memilah bagian penting yang patut ia tulis. Bacaannya belumlah cukup, maka itu ia memutuskan untuk berkeliling mengendarai motor tuanya, barangkali ada inspirasi yang ia temui di jalanan nanti.

Sengat matahari saat itu tiada pamrih, sekujur tubuhnya merasakan perih. Terbayang olehnya alasan mengapa negeri ini begitu kacau. Barangkali cuaca panas pula yang memicu karakter masyarakat menjadi keras kepala, tempramen, tergesa-gesa dan suka membabi buta.

Saat keliling pun sama, Bahar melihat banyak kejadian. Ia menyebutnya, rupa-rupa warnanya. Gambaran yang pas untuk bangsa yang banyak budaya. Pengemis, pedagang kaki lima, pemulung dan masih banyak lagi manusia yang mempertontonkan kemiskinan. Terpaksa atau kesempatan sama saja bagi Bahar, malah sekarang banyak orang berlomba-lomba kelihatan tak berdaya, biar bisa diberi sedekah.

Semua yang ia lihat sepanjang perjalanan, membuat tekatnya semakin bulat untuk menuliskan berita ekonomi. Baginya ekonomi adalah hal paling penting di kehidupan. Ekonomi bisa mengukur si kaya dan si miskin, ekonomi bisa membedakan kebutuhan dan keinginan, ekonomi dapat menjadi tolak ukur berkembangnya suatu bangsa atau tidak, ekonomi juga bisa memecah belah hubungan. Semuanya bersumber pada ekonomi; cinta, keluarga, pertemanan, bahkan kepercayaan terhadap Tuhan tergantung kondisi ekonomi seseorang.

Tetapi sebagai seorang penulis berita, Bahar tidak serta-merta langsung menuliskannya begitu saja. Ia butuh sudut pandang yang tepat, agar pembacanya tidak berkata “so what”, ia ingin pembaca berkata “what?”. Pembaca jadi tercerahkan, dapat hal baru atau setidak-tidaknya bisa mensyukuri nikmat yang dirasakan saat ini.

Masih dalam keadaan bingung, Bahar mengamati setiap detail jalanan yang ia lewati. Barangkali ada hal yang bisa ia angkat jadi topik. Hingga akhirnya matanya tertuju pada seorang bapak paruh baya yang sedang duduk tepat dibawah pohon sebuah kantor bersama gerobaknya. Dari semua gambaran kemiskinan kota, bapak berkopiah hitam itulah yang menurutnya pas untuk jadi tokoh dalam beritanya.

Batas waktu yang mendesak, membuat Bahar tanpa pikir panjang langsung menghampiri bapak paruh baya itu.

“Permisi pak” Bahar coba menyapa
“Iya, ada apa yah?” Jawab bapak itu dengan raut wajah heran.
“Tidak ada pak, saya hanya mau bicara sebentar dengan bapak. Perkenalkan saya Bahar pak, saya seorang wartawan” sambil memperlihatkan press card
“Oh, wartawan yang suka tulis berita itu ya” kata bapak itu senyum
“Iya pak, benar”
“Lah terus mau tanya apa dek? Alamat? Kalau alamat bapak tidak tahu, soalnya bapak bukan orang sini”

“Eh.. bukan pak, saya hanya mau bicara dengan bapak. Mungkin bapak bisa cerita sedikit tentang keseharian bapak, biar nantinya saya tulis dan muat di koran pak”
“Lah, emang saya ini siapa. Kok bisa-bisanya di tulis dan masuk koran, bukannya orang-orang yang ada di koran itu orang hebat, lah ini saya cuma mulung mana bisa masuk koran. Kalau saya mati karena ditabrak mungkin baru bisa masuk koran” kata bapak itu sambil sedikit tertawa.
“Tidak juga pak, koran kan dibaca biar bisa dapat informasi. Jadi siapa saja bisa masuk koran yang penting punya sumber informasi” Bahar coba menyakinkan
“Aduh janganlah dek, bapak tidak mau masuk koran”
“Yah tidak apa-apa pak, kan namanya juga berbagi informasi” rasa-rasanya Bahar masih belum menyerah.
“Mending cari orang lain saja dek. Bapak tidak mau masuk koran, takut banyak nanti banyak yang kenal”
Bahar belum juga menyerah dan memang ia termasuk orang yang pantang menyerah. Jika ia katakan A, pasti tidak berubah walau sampai mati.
“Nah, kan bagus pak kalau banyak yang kenal, bisa banyak orang yang tahu kondisinya pak”

Baca juga : Bukan Hanya Dongeng Pengantar Tidur Semata

Diterbitkan

dalam

,

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *