Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerpen

Cerpen : My Reflection – Nay belajar dari ayah

Ditulis Oleh Sttutik

Gadis itu menutup bab yang paling ia sukai dari buku favoritnya. Lalu ia bangkit dan segera merebahkan dirinya di atas kasur. Badannya serasa remuk setelah berjam-jam membaca. Selama berbaring kepala gadis itu tak bisa berhenti memikirkan mengapa ia selalu saja terhenti pada posisinya saat ini.

Keadaan dimana tak ada kemajuan dari hidupnya. Hanya diam di kamar, membaca buku, mendengarkan lagu, tidur dan selalu seperti itu. Saat keluar pun ia hanya mendatangi toko buku, ia benar-benar berubah menjadi gadis introvert setelah di tinggalkan oleh abangnya.

“Nay”

Suara itu terdengar, menandakan ayah memanggilnya. Gadis itu tak menjawab. Ia ingin melanjutkan lamunannya yang tertunda.

“Naya”

Ayah kembali memanggil. Dengan terpaksa gadis cantik itu harus bangun sebelum ayah mendatanginya.

“iya ayah” jawabnya guna menahan teriakan lainnya. Gadis itu menuju taman depan tempat sang ayah berada

“ Ayo, kita harus keluar dan jalan-jalan Nay kamu sudah terlalu lama dikamar dan memeluk semua novel-novel itu.” Gadis itu memutar bola matanya dan menghembuskan nafas karena kalimat sang ayah.

“kenapa tiba-tiba ayah? Aku sedang tak ingin keluar atau bertemu siapapun”

Sang ayah menghembuskan nafas kencang. Diam beberapa saat dan mendekat memeluk bahu putrinya dan berkata

“Nay, ayah tau kamu masih belum menerima kepergian abang mu. Ayah tidak mau memaksa mu untuk menerimanya dengan cepat ataupun lambat nay. Ayah hanya tak ingin Naya menjadi Naya yang tidak ayah kenal seperti ini. Naya yang selalu mengurung diri di dalam kamar, ini sungguh bukan Naya”.

Gadis itu terdiam. Hanya mendengarkan tanpa memberikan balasan.

“Ayah juga tau, kalau Naya sangat sedih karena ditinggalkan. Semua keluarga abang pasti sedih nay, termasuk ayah dan ibu.” Gadis cantik itu mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk.

“Ayah hanya ingin sampaikan ke Naya kita semua boleh sedih. Itu wajar Nay untuk kondisi Naya saat ini. Tapi Naya harus inget, Naya harus tetap jalani hidup Naya seperti sebelumnya. Naya harus bisa jalani semuanya seperti dulu. Naya yang sibuk, naya yang cerewet dan mudah ngambek ke ibu karena lebih sayang abang, ayah rindu semuanya nay.” Naya menatap ayahnya. Semakin sadar dan paham betul maksud dari ayah.

“tapi ayah, Naya ga tau harus apa. Abang pergi tiba-tiba dan secepat itu. Bahkan Naya ga ada di samping abang saat abang lagi sakit. Naya merasa bersalah dan selalu terbayang sama semuanya yah. Naya bukan adik yang baik. Bahkan abang udah minta Nay buat pulang tapi nay masih kekeh dan sibuk sama kerjaan nay. Naya yang salah karena gak mau pulang dan nemenin abang waktu itu ayah.” Gadis itu kembali menunduk dan mengusap air matanya.

Aku yang Kau Sebut Penantian

“Nay, semuanya sudah tejadi. Naya harus tau apapun itu, mau berat, mau ringan, banyak ataupun sedikit pasti akan terlewati nay. Kunci dari semuanya adalah penerimaan. Kepergian abang bukan salah nay. Bukan juga salah siapapun. Abang udah tenang disana. Nay harus relakan dan menerima dengan ikhlas kalau abang udah gak ada. Nay akan selalu seperti ini kalau nay ga bisa menerima kepergian abang”

Lagi – lagi air mata gadis itu tumpah dan di seka oleh sang ayah. Berusaha menghibur dan melepaskan putrinya dari kegelapan yang membelenggu selama beberapa bulan terakhir.

Setelah beberapa menit menangis sesenggukan. Tangis gadis itu perlahan mereda.

“ayah, ayah benar. Nay hanya belum menerima kepergian abang. Dan semua ini buat Nay berubah. Ayah bantu Nay ya. Naya ga bakal bisa tanpa ayah dan ibu” ayahnya tersenyum melihat putrinya yang juga sedang tersenyum.

“ya sudah, kamu istirahat. Besok saja kita jalan-jalannya. Yaa walaupun ayah sudah isi bensin full tangki hari ini” gadis itu tertawa. Ia Nampak manis dan segar setelah beberapa bulan Nampak pucat dan tak bersemangat.

At least..

Pada akhirnya, nasehat dari ayah menyadari gadis itu. Ia sadar bahwa dirinya terjerat dengan pikirannya sendiri selama berbulan-bulan. Ia hanya belum bisa menerima kepergian abangnya yang terlalu cepat. Ia paling ingat pesan ayah bahwa dalam hidup kita harus bisa menerima.

Dengan penerimaan hidup akan lebih nyaman dan damai. penerimaan yang benar adalah penerimaan yang tulus dengan kesadaran seutuhnya. Terima dan nikmati segala rasa yang ada, buatlah hidupmu damai dengan kesadaran mu.

 

Tentang Penulis

Sttutik