Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerpen

Lelaki Pejuang Rupiah

Hidup itu indah, setiap nikmat yang ada membuat kita merasa bersyukur.

Namanya Dg. Sakka. Dia terkenal ramah di desanya. Istrinya sudah lama meninggal, sejak melahirkan anak pertama mereka. Syukurlah, anak yang dilahirkannya selamat. Kini anak itu menjadi alasan mengapa dg. Sakka harus selalu semangat bekerja dengan mengayuh becak setiap hari. Terkadang, jika anaknya lagi sakit dan tak bisa di tinggal sendiri dirumah, ia membawa anaknya mencari penumpang. Tak sedikit penumpang risih jika duduk di samping anak dg. Sakka didalam becak. tak sedikit pula yang bahkan ikut berempati dengan memberikan tambahan ongkos becak ke dg. Sakka.

“Kembaliannya ambil aja pak, buat si adek” kata salah satu penumpang dg. Sakka.

Dengan senyum yang sangat tulus, dg. Sakka menerima uang itu dan tak hentinya berucap terimakasih.

becak

Baca juga : Cerpen : Ojek Corona

Suatu hari, dg. sakka mengalami sakit di kepala lalu ia denga cepat mendorong becaknya ke pinggir jalan. Penumpangnya saat itu seorang ibu-ibu yang hendak ke pasar.

“Lah kok berhenti disini pak, saya kan mau ke pasar” katanya sambil mendengus kesal

“Maaf bu. Kepala saya sangat sakit”

“Kalau sakit kenapa cari penumpang. Sudahlah! Saya mau turun disini saja” kata penumpang itu sambil memberikan uang sebesar lima ribu rupiah pada dg. Sakka dengan cara sedikit dilempar. Dg. Sakka tetap menerima dengan hati yang lapang.

Ia lalu beristirahat sejenak di becaknya sembari menutup mata dan memijit kepalanya. Dg. Sakka tiba-tiba terbangun saat seorang pemuda menyentuh pundaknya “Pak, saya mau naik becak. Bisa gak?”

“Maaf dek, kepala saya sakit sekali” jawab dg. sakka menolak secara halus

“Yah, pak saya sekarang sedang buru-buru ke rumah sakit sana. Istriku melahirkan pak dan sangat membutuhkan saya”

Mendengar jawaban pemuda itu, dg. sakka seketika ingat akan almarhumah istrinya yang meninggal setelah melahirkan.

“Silahkan naik dek. Saya sudah baikan” kata dg. Sakka lalu menyuruh pemuda itu naik ke becaknya.

Di perjalanan menuju rumah sakit, pemuda itu bercerita bahwa ia sangat bahagia karena istrinya akan melahirkan anak pertama mereka. Dg. Sakka ikut tersenyum gembira. Ia mengatakan ke pemuda itu “Jadilah ayah yang bertanggungjawab dengan istri dan anakmu”. Pemuda itu lau menoleh ke belakang dan tersenyum sembari berkata pada dg. Sakka “Iya pak saya janji akan hal itu. Terimakasih sudah diingatkan”

Sekitar 10 menit, akhirnya mereka sampai di depan Rumah Sakit bersalin Amanda. Pemuda itu lalu memberikan uang sebesar sepuluh ribu ke dg. Sakka dan mengucapkan terimakasih.

Kini, wajah dg. Sakka memucat. Cucuran keringat terus mengalir ke pelipisnya. Ia menepihkan becaknya dan memijat kepalanya lagi.

Hidup tak seindah di negeri hayalan. Tapi keindahan hidup lebih nikmat terasa apabila kita syukuri pemberianNya.

Tiba-tiba seorang ibu membangunkannya, katanya mau diantar ke Jl. Sunu yang jauhnya sekitar 4 km dari sana. Dg. Sakka awalnya ingin menolak tapi ia kepikiran anaknya di rumah yang ingin makan dan jajan seperti anak kecil lainnya. Dan dg. Sakka butuh uang untuk itu. Akhirnya ia menerima tawaran itu. Ia mengantar ibu itu hingga sampai ke tempat tujuannya.

“Makasih pak” ucap ibu itu saat turun dari becak

“Iya bu sama-sama” Jawab dg. Sakka dengan tersenyum sambil menutupi sakit dikepalanya. Dia lalu masuk untuk duduk didalam becaknya. Menghitung uang yang ia hasilkan hari ini. Syukurlah hari ini ia dapat lebih banyak dari kemarin. Ia lalu menyisihkan dua ribu rupiah untuk diberikan kepada anaknya yang sekarang menjadi penyemangat satu-satunya dalam hidupnya.

Adzan maghrib berkumandang, dg. Sakka lalu mengayuh becaknya pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, ia melihat anaknya membuka pintu sambil tersenyum. Dg. Sakka yang awalnya merasa sakit, capek, langsung jadi semangat karena di sambut bidadari kecil yang lucu itu.

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Tentang Penulis

Ainunnisa Dhika Fajri

Born to shine!