Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Opini Tahukah Kamu

Palu Bangkit : Apakah Saya Trauma?

Ditulis Oleh Ardika

Apakah Saya Trauma?

Gempa, Tsunami dan Likuifaksi : Bencana Alam yang hadir di tanggal 28 September 2018.

Palu, Donggala dan Sigi dipilih sebagai tempat Belajar MANUSIA-MANUSIA KUAT…

Saat ini, kalau dicek perasaan setiap orang di sini, akan banyak menjawab “Takut, Cemas, Gelisah, Tidak Bisa Tidur, Murung, Sedih, dan ragam lainnya”.

Saya selalu bilang, bahwa respon itu manusiawi sekali untuk saat ini, “Put, ini respon manusiawi, kami masih manusia, dan sebagai manusia kamu wajar mengalami respon itu”. bisa bayangkan gempanya sekuat itu, tsunaminya separah itu, ditambah likuifaksinya sedahsyat itu. Manusiawikan kalau responku seperti itu. takut, cemas, gelisah, marah, dan lainnya adalah cara kami mempertahankan diri

Ini bukan trauma. paling tidak belum menjadi trauma sampai saat ini. Jadi apa namanya ketakutan di petang hari itu Put, kalau bukan Trauma?

Ya, respon manusiawi itu saja. respon ketidaknyamanan emosional. Pada akhirnya, dalam usaha mempertahankan diri, saya akan mengubah perlahan-lahan, respon ketidaknyaman emosional menjadi respon adaptif yang nyaman. Perlahan-lahan.

Sementara saya berusaha demikian, saya sedikit sedih, karena respon manusiawi saya dilabeli dengan diagnosa Trauma. Ya, dikatakan “Saya Trauma”, lalu bermunculan dimana-mana, bantuan menyembuhkan Trauma. Saya bingung jadinya. dulu saya belajar, itu menjadian gangguan trauma setelah kondisi “tertentu” dan dalam kurun waktu “tertentu”.

Boleh kah saya meminta keadaan saya saat ini tidak dilabeli Trauma. saya yakin, saya belum trauma saat ini. Saya sedang berusaha untuk pulih dari ketidaknyamanan emosional.

Gempanya, Tsunaminya, memang mengalaman Traumatis, tetapi saya sedang berusaha memahami diri saya, tentang perasaan-perasaan emosional saya, termasuk ketidaknyamanan ini.

Memang sangat tidak nyaman dengan perasaan ini, tawa terenggut, tidur berkurang, hati selalu was-was, bahkan sering kali tak nafsu makan, dan pastinya rentetan perasaan lainnya.

Tapi kenapa sih saya tidak mau dilabeli Trauma?

Soalnya, kata Trauma itu biasanya sudah pada level parah, dan setelah melewati beberapa waktu yang cukup lama. mungkin setelah lebih dari 8 minggu atau paling lama 3 bulan lah. Nah sekarang kan  baru 17 hari  pasca bencana (waktu tulisan ini dibuat)Lalu sudah dilabeli Trauma.. Saya malah khawatir, nantinya saya malah frustasi.

marah-marah dalam diri, “wah saya trauma ini, wah parah nih saya, wah gawat nih, wah saya harus gimana, saya gak boleh kayak gini” atau bahkan jadi rejected dengan bilang “tidak kok, saya tidak sakit, siapa bilang saya takut gempa, saya ini tidak cengeng, saya ini pemberani” dan macam-macam model frustasi.

Baca Juga : Tragedi Kelam | Puisi

Oleh karena itu, mari memahami respon-respon emosi dari diri ini. Saya pikir dan Saya rasa, bahwa saya manusia Normal. dan Izinkan saya mengalami rasa-rasa ketidaknyamanan emosional sebagai akibat dari keadaan yang menekan dan pengalaman antara hidup-mati. Izinkan saya menerima rasa-rasa ketidaknyamanan itu, Izinkan saya menikmatinya sebagai perasaan manusiawi Manusia.

Lantas apakah saya tidak memerlukan bantuan. Wah, tidak juga, saya tetap memerlukan bantuan, bantuan apa? Salah satunya, bantu saya tidak melabeli perasaan ini menjadi Trauma, lalu bantu saya dengan mendengarkan saya dan memastikan ada bahu yang kuat sebagai sandaran saya saat saya lelah, kemudian bantu saya menjadi kuat dengan tidak selalu menyuap saya melainkan mengajak saya melihat hal-hal positif dari hidup, selanjutnya bantu saya dengan Doa-doa terbaikmu.

Saya percaya, respon alami ini akan membuat setiap orang belajar dan mengembangkan ketangguhan diri saya. ketangguhan kemudian melahirkan cara-cara bertahan hidup.

Jadi, ayo belajar memahami respon-respon emosional manusia yang manusiawi, belajar menerima respon-respon itu, dan bertumbuh. Percayalah, kita semua kuat untuk hari Jumat 28 September 2018.

Benar kah Saya Trauma??? 

Dalam pemahaman saya, Bencana 28 September 2018 adalah Kejadian Menyakitkan, tetapi meskipun itu adalah kejadian menyakitkan, belum tentu menjadikan individu-individu trauma.

Jika tidak trauma, apakah nama perasaan seperti takut, gelisah, sedih, marah dan lainnya ketika melihat laut atau tanah bergoyang? Saya suka menyebutnya sebagai Reaksi Emosional tidak Stabil pasca Bencana, dan perasaan itu WAJAR DAN MANUSIAWI. Respon yang wajar dan manusiawi itu paling tidak akan hadir sesaat setelah bencana hingga kurang lebih 8 – 12 minggu. Dalam rentan waktu tersebut, saya percaya bahwa mekanisme Emosional kita perlahan-lahan bereaksi stabil kembali.

Baca Juga : Trauma Penikmat Senja

Mengapa perasaan-perasaan itu tidak disebut sebagai Trauma?

Ya karena diagnosis trauma itu diberikan setelah kurun waktu tertentu (melewati 8 – 12 minggu) dan pada kondisi individu yang menunjukan fase DISORDER / TERGANGGU (dengan derajat parah) untuk menjalankan fungsi hidup sehari-hari, bahkan mengganggu kesehatan fisik.

Tahu kah kawan, dalam penelitian-penelitian disebutkan, hanya kurang lebih 4% individu yang mengalami Trauma setelah mengalami Respon Emosianal Tidak stabil Pasca Bencana, sedangkan Sisanya, dapat kembali berfungsi optimal.

Oleh karena itu, dalam fase saat ini, tugas para relawan sebenarnya sederhana, Membantu para korban kuat melewati respon emosional tersebut, Membantu para korban menemukan dan merasakan Keamanan (melalui diri, keluarga dan komunitas), Serta Membantu para korban untuk berfungsi seadaptif mungkin dalam situasi transisi darurat kini. Dan… Tidak Melabeli kondisi ini SEBAGAI TRAUMA. .

Catatan Penyintas 28 September 2018.

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya

Tentang Penulis

Ardika