Palu Bangkit : When The City Smiles

Aku menyukai tempat tinggalku sekarang. Namun di sisi lain karena lamanya aku di tempatku, kejenuhan terkadang datang di benakku. Hingga aku sadari bahwa aku punya seribu alasan untuk pergi. Tapi bukan di hari itu. Belum saatnya. Mengapa? Aku juga tak tahu pasti. Namun, ada senja yang ingin ku temui, yang aku rindukan hari itu. Karena aku sangat menyukainya. Tak ada alasan aku untuk membencinya. Tempat aku berpijak saat mengagumi dirinya adalah di tempat ini. Di pinggiran pantai.  Ya, memang benar aku selalu menikmati senja di pinggir pantai bersama hamparan laut biru, di kota ku ini.

Apa yang ku tulis ini bukanlah tentang pantainya, atau senjanya atau bahkan tentang kota ku yang telah hancur yang kini hanya menjadi puing puing kenangan. Tapi tentang apa yang akan terjadi setelah-nya. Karena ada hal yang jauh lebih indah yang tanpa kita sadari nantinya telah disiapkan-Nya..!!!

….

(Sebelumnya)

Suatu sore aku berjalan di pinggiran pantai. Sekali lagi. Tak begitu jauh aku berjalan di pinggiran pantai. Melihat pohon yang berdiri sendiri menghempaskan dedaunan yang telah menguning dari tubuhnya. Aku menghampiri pohon itu, berharap untuk di perkenankan olehnya untuk berteduh di bawah.  Aku ingin menikmati suasana senja di hari itu. Tentu saja kita selalu punya tempat untuk pergi dan kembali. Tentu saja kita juga punya tempat untuk meneduhkan suasana hati. Dan di tempat inilah aku memilih. Melihat dedaunan yang menguning turun bagaikan musim gugur yang ada di Jepang. Namun suasana di sini jauh lebih indah daripada yang ada di Jepang. Melihat senja yang hendak pergi meninggalkan bumi. Karena telah siap untuk di gantikan oleh gelapnya malam. Mendengar gemuruh ombak menderu tak pasti akan menghempaskan diri entah kemana.

Untuk waktu yang singkat angin berhembus begitu cepat dan begitu dingin menikam tajam ke tubuhku. Bagaikan seribu jarum. Langit yang ku pandangi menjadi gelap seketika. Bukan karena malam tiba. Tapi karena awan hitam yang menutupi senja di hari itu, aku beranjak pergi dari teduhan pohon, meninggalkan pantai. Aku berpikir hujan akan segera turun. Namun tidak.

Tak begitu jauh aku melangkah pergi dari pantai, guncangan yang dahsyat datang menjatuhkan ku seketika. Apa yang terjadi? Aku bingung dalam kepanikan yang datang di benakku. Beberapa orang yang ku lihat berlarian pergi. Teriakan yang menakutiku memaksa kaki ku untuk berlari kencang pergi jauh meninggalkan pinggiran pantai dan lautan. Jalanan tampak sudah. jelas terbelah. Apa yang telah terjadi? Lagi dan lagi kepanikan meronta melalui sistem tubuhku yang tumpul, menusuk saraf-sarafku sepanjang perjalanan dan seribu tanda tanya terus mengganggu, menakutiku untuk sesaat.

Masih dalam pelarian ku. Aku melihat dari kejauhan di balik salah satu gedung tua yang masih kokoh. Ombak dari lautan menyurutkan diri. Mungkinkah? Oh tidak. Mungkinkah bumi dan lautan sedang marah. Hingga sekejap ombak dari lautan datang menerjang dengan begitu tajam melewati pinggiran pantai masuk ke jalanan yang berada dekat dengannya. Tanpa menoleh lagi aku melanjutkan langkah kaki ku untuk berlari secepatnya meninggalkan lautan yang hendak mengejarku. Tak ingin berpikir lama atau berhenti. Aku hanya tahu berlari secepat mungkin. Itu saja. Namun di tengah pijakkan kaki ku saat berlari, lagi dan lagi aku terjatuh karena guncangan yang sama terjadi. Bangun dan berlari lagi. Itulah yang ku lakukan.

Hampir setengah jam aku berlari jauh. Itu membuatku benar- benar lelah dan rasa takut itu masih ada. Melihat setiap orang yang berlari dalam ketakutan dan tanpa berpikir, meninggalkan harta bendanya. Itulah yang juga kulakukan. Aku berhenti sesaat di mana ada beberapa orang yang ku lihat berkumpul dalam rasa panik dalam diri.

Dua jam setelah kejadian aku mencari tumpangan untuk pulang kembali ke rumah. Lalu aku mencoba menghubungi keluargaku yang berada di rumah. Jauh dari tempat ku sekarang. Berharap mereka dalam keadaan baik. Dan memang benar mereka selamat. Begitu pun rumahku. Tempat tinggalku di kota ini, jauh dari pinggiran pantai, jadi amarah lautan takkan sampai mengenai rumahku.

Baca Juga : Senjaku Direnggut Oleh Bencana

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *