Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Puisi

Musafir : Pejalan Ingatan

Ditulis Oleh Dandy Rustam

 

Puisi adalah bahasa yang indah, Kita bisa merayu diri sendiri dengan puisi. Termasuk saat kita ragu melangkah lebih jauh.

Musafir : Pejalan Ingatan

Setengah hidup, kita merasa setengah mati. Perjalanan masih menyisakan jalanan berliku dan jarak yang masih menyisakan beberapa mil lagi. Jalan setapak yang membingungkan, dipenuhi tanda tanya dengan jawaban setelah bertualang lebih lama. Kawan-kawan musafir, ada yang terlihat sedang tergesa-gesa, ada yang terlihat santai-santai saja, ada juga yang terlihat berfikir lebih keras untuk memecahkan teka-teki untuk melangkah ke level selanjutnya.

.

Berjalan dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, menyisakan banyak kisah yang belum terselesaikan. Layaknya dongeng, hidup kita termasuk dongeng terpanjang di dunia ini. Entah beberapa episode lagi dongeng ini akan selesai. Mungkin saja, liang lahat akan menjadi tanda telah usai. Tapi, bukannya setelah kembali ke ilahi akan ada kisah lagi setelahnya beserta pertanggung jawaban atas semua yang telah terjadi?

.

Duduk sejenak, kita semestinya merasa lelah. Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita membuka kotak masa lalu yang telah terjadi itu. Mari kita periksa baik-baik, teliti dengan seksama, jangan sampai ada kisah yang salah tempat. Baiklah mari perbaiki satu-satu, pelajari, dan tata lebih rapi. Setelah beres, mari kita lanjutkan perjalanan.

.

Banyak diantara kita, kisahnya belum juga terjadi, cerita berikutnya telah disediakan tempat untuk disimpan rapat-rapat. Bukan hal lain, hal ini hanya untuk menyimpan kisah itu sebagai ingatan bahwa itu pernah terjadi dan aku ada disana. Ingatan manusia tidak ada yang tahu, hal-hal yang mungkin terjadi baru sedetik yang lalu, akan dilupakan pada detik  berikutnya.

.

Mulai melangkah, adalah keputusan bagi kita semua untuk tetap menemukan cerita selanjutnya. Tidak akan ada ragu lagi yang seharusnya melekatkan pada telapak kaki kita. Mari membiarkan yang ingin terjadi, menjadi terjadi saja. Toh, setelah itu, yang mendapatkan pelajarannya akan kembali kediri kita juga.

“Temukan,

Pelajari,

Abadikan,

Ceritakan di masa depan nanti”

Baca Juga : Saatnya Belajar Bahasa Inggris Secara Otodidak Dengan 3 Media Ini!

AnakUntad.com adalah media warga. Setiap warga kampus Untad bebas menulis dan menerbitkan tulisannya. Tanggung jawab tulisan menjadi tanggung jawab penulisnya.

Tentang Penulis

Dandy Rustam

Sharing is a good thing.